REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Slow jogging atau lari pelan semakin banyak dipilih sebagai salah satu bentuk olahraga yang ramah untuk berbagai kelompok usia. Olahraga ini pada dasarnya merupakan aktivitas berlari dengan kecepatan nyaman, bukan mengejar catatan waktu atau pace tertentu.
Dokter sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI), dr Jamaluddin Lukman, mengatakan intensitas latihan ideal slow jogging berada pada tingkat yang memungkinkan seseorang masih mampu berbicara dalam beberapa kalimat tanpa terengah-engah. Namun, istilah "slow" bersifat relatif karena kecepatan yang terasa ringan bagi satu orang belum tentu sama bagi orang lain.
Menurut dr Jamal, manfaat slow jogging serupa dengan latihan aerobik lainnya. Aktivitas ini dinilai dapat membantu meningkatkan kebugaran jantung dan paru-paru, memperbaiki stamina, membantu pengendalian berat badan, menjaga kadar gula darah dan tekanan darah, serta mempertahankan fungsi otot.
"Pada penelitian terhadap kelompok lansia, program slow jogging juga dilaporkan dapat meningkatkan kapasitas aerobik dan fungsi otot," kata dr Jamal saat dihubungi Republika, Kamis (23/7/2026).
Dibandingkan olahraga lari yang lebih berorientasi pada kecepatan, kata dia, keunggulan utama slow jogging terletak pada kemudahan dalam mengatur intensitas latihan. Slow jogging biasanya tidak terlalu melelahkan, waktu pemulihannya lebih singkat, dan lebih mudah dilakukan secara konsisten.
"Tapi slow jogging bukan berarti selalu lebih baik. Untuk atlet atau orang yang ingin meningkatkan kecepatan, latihan tempo dan interval tetap diperlukan sebagai bagian dari program latihan," ujar dr Jamal.
Meski relatif aman, slow jogging tetap termasuk aktivitas dengan benturan berulang sehingga tidak sepenuhnya bebas dari risiko cedera. Dokter Jamal mengatakan orang dengan berat badan berlebih, lansia, atau mereka yang sudah lama tidak berolahraga sebaiknya memulai dari aktivitas yang lebih ringan seperti jalan cepat atau kombinasi jalan dan jogging.
Sementara itu, orang yang sedang mengalami cedera akut, nyeri sendi saat berjalan, pembengkakan, gangguan keseimbangan, atau baru menjalani operasi sebaiknya menunda jogging sampai kondisinya aman. Individu dengan penyakit jantung, tekanan darah yang belum terkontrol, sesak yang belum diketahui penyebabnya, atau riwayat sering pusing dan jatuh juga disarankan berkonsultasi terlebih dahulu sebelum memulai latihan.
"Segera hentikan latihan bila muncul nyeri dada, sesak berat, pusing, hampir pingsan, jantung berdebar tidak wajar, atau nyeri yang menyebabkan pincang. Peningkatan jarak dan kecepatan yang terlalu cepat merupakan salah satu penyebab utama cedera lari," ujar dr Jamal.

3 hours ago
18













































