
Oleh: Dr. CA. Jamaluddin, LC, Ms.J, Pemerhati hubungan Indonesia – Timur Tengah dan Isu-isu Global
REPUBLIKA.CO.ID, Tahun pertama masa jabatan Presiden Indonesia Prabowo Subianto ditandai dengan aktivitas diplomatik yang sangat intens. Presiden Prabowo menyelesaikan 35 perjalanan luar negeri selama 12 bulan pertama masa jabatannya (akhir 2024 hingga Oktober 2025).
Intensitas tahun kedua antara Oktober 2025 dan pertengahan 2026, Presiden Prabowo melakukan sekitar 16 perjalanan tambahan (termasuk kunjungan ke Yordania, UEA, Jepang, serta rangkaian kunjungan ke sejumlah negara Eropa seperti Prancis, Austria, dan ungaria), yang menjadikan total keseluruhannya lebih dari 50 perjalanan.
Presiden Prabowo Subianto menjalankan kebijakan luar negeri yang dinamis, melibatkan keterlibatan langsung, dan bersifat multidireksional. Beralih dari pragmatisme ekonomi yang pasif menuju sikap sebagai kekuatan menengah (middle-power) yang lebih tegas, Di bawah pemerintahannya, Jakarta menyeimbangkan ekspansi pasar global yang agresif—yang ditandai dengan bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS dan upaya aksesi ke OECD—dengan modernisasi pertahanan berskala besar serta diversifikasi kemitraan internasional.
Tingginya frekuensi misi diplomatik dan ekonomi internasional ini memicu perdebatan di dalam negeri mengenai efisiensi anggaran dibandingkan dengan kebijakan luar negeri yang aktif. Di Tengah diskursus tersebut, sebagian kalangan mengapresiasi langkah diplomasi geopolitik yang dilakukan Presiden Prabowo, namun sebahagian lain ada pula yang melancarkan kritik terhadap diplomasi geopolitik Prabowo tersebut.
Lantas bagaimana Presiden Prabowo mengarungi bahtera dinamika geopolitik dan yang terjadi saat ini, sehingga kapal besar yang bernama Indonesia dapat berlabuh menuju daratan yang penuh damai, maju dan makmur? Benarkah diplomasi geopolitik yang dilakukan Presiden Prabowo benar-benar efektif dan mampu mengangangkat kembali citra Indonesia di mata global?
Stuart E. Eizenstat, mantan penasihat kebijakan di pemerintahan Clinton sekaligus penulis buku The Art of Diplomacy: How American Negotiators Reached Historic Agreements that Changed the World mengulas mengenai alasan mengapa diplomasi yang efektif sangat penting dalam tatanan dunia baru yang terus berkembang. Membandingkan cara dan gaya diplomasi AS dan gaya diplomasi geopolitik yang dilakukan Presiden Prabowo tentu berbeda bab dan halaman dan tidaklah pula adil alias tidak apple to apple.
Namun demikian diplomasi geopolitik Prabowo mengandung nilai-nilai seni diplomasi yang memiliki target dan tujuan yang sama dengan apa yang dikemukakan Eizenstat. Atas alasan itulah nampaknya Presiden Prabowo secara intens melakukan lawatan luar negeri ke berbagai negara inti dan kunci di tengah persaingan global yang tidak menentu.
Seni diplomasi adalah pengelolaan hubungan dan sengketa internasional secara damai melalui negosiasi terstruktur, persuasi, dan empati. Alih-alih mengandalkan kekuatan, diplomasi memperlakukan pihak lawan sebagai mitra untuk menghasilkan kesepakatan yang berkelanjutan dan saling menguntungkan (common interest).
Di samping itu, meyakinkan pihak lain bahwa suatu kesepakatan sejalan dengan kepentingan nasional (Indonesia), termasuk memahami faktor pendorong emosional dan kebutuhan sesungguhnya dari pihak lawan. Hal penting lainnya, adalah mewujudkan manfaat bersama dengan membangun kepercayaan jangka panjang, menguasai masalah yang kompleks secara detail serta menentukan waktu yang tepat untuk melakukan intervensi krusial.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

3 hours ago
16

















































