Mengapa Media Monitoring Jadi Kunci dalam Krisis Siber di Era Geopolitik Digital?

8 hours ago 6

loading...

Ardi Arupa Kewangga, Pranata Humas BSSN sekaligus Praktisi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta. Foto/istimewa

Ardi Arupa Kewangga
Pranata Humas BSSN sekaligus Praktisi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta

DI era geopolitik digital, konflik antarnegara tidak lagi terbatas pada kekuatan militer konvensional. Dunia kini memasuki fase hybrid warfare, di mana serangan siber menjadi instrumen strategis untuk melemahkan negara tanpa harus melibatkan konfrontasi fisik. Infrastruktur digital, data publik, hingga persepsi masyarakat menjadi target yang sama pentingnya dengan wilayah teritorial.

Dalam konteks ini, krisis keamanan siber tidak hanya menjadi persoalan teknis, tetapi juga krisis komunikasi yang menentukan kepercayaan publik terhadap negara. Ketika terjadi kebocoran data atau gangguan layanan digital, yang terdampak bukan hanya sistem, tetapi juga legitimasi institusi di mata masyarakat. Di sinilah media monitoring memainkan peran strategis yang sering kali belum dimaksimalkan.

Dari Serangan Siber ke Krisis Kepercayaan Publik

Secara teoretis, Situational Crisis Communication Theory (SCCT) yang dikembangkan oleh W. Timothy Coombs menjelaskan bahwa dampak krisis sangat ditentukan oleh bagaimana publik mengatribusikan tanggung jawab kepada organisasi atau institusi yang terdampak (Coombs, 2007). Dalam kasus keamanan siber, krisis yang awalnya dapat dipersepsikan sebagai victim crisis—karena serangan berasal dari aktor eksternal—dapat dengan cepat bergeser menjadi preventable crisis ketika publik menilai adanya kelemahan sistem atau ketidakmampuan dalam merespons insiden.

Pengalaman Indonesia menunjukkan dinamika tersebut. Dalam kasus kebocoran data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada 2021, misalnya, narasi publik tidak berhenti pada fakta adanya serangan, tetapi berkembang menjadi kritik terhadap perlindungan data pribadi yang dinilai lemah (BBC News, 2021). Pergeseran atribusi ini memperbesar dampak reputasi dan menurunkan kepercayaan publik.

Hal serupa juga terlihat pada gangguan layanan akibat serangan ransomware terhadap Bank Syariah Indonesia pada 2023. Saat krisis tersebut terjadi, minimnya informasi yang jelas serta dan kurangnya transparansi memicu spekulasi dan keresahan nasabah yang berdampak terhadap citra dan reputasi Bank BSI (Muhaimin dkk, 2025). Krisis yang awalnya bersifat teknis berkembang pula menjadi krisis komunikasi yang memperkuat persepsi negatif publik.

Dua kasus ini menunjukkan bahwa dalam krisis siber, yang dipertaruhkan bukan hanya sisi teknis terkait dengan keamanan sistem, tetapi juga kontrol atas narasi publik yang dapat mempengaruhi reputasi organisasi.

Media Monitoring sebagai Sistem Deteksi Dini Krisis

Dalam kerangka Crisis Lifecycle Model dari Steven Fink, setiap krisis memiliki fase awal (prodromal stage) yang ditandai oleh munculnya sinyal-sinyal peringatan (Fink, 1986). Di era digital, sinyal ini sering kali muncul dalam bentuk percakapan di media sosial atau bahkan komunitas siber tertutup sebelum menjadi isu besar di media arus utama. Media monitoring memungkinkan organisasi untuk menangkap sinyal-sinyal tersebut secara lebih dini.

Read Entire Article
Politics | | | |