Pemberangkatan perdana jamaah haji Indonesia dari Makkah ke Arafah dari Hotel Luluat Albait, Makkah, Senin (25/5/2026) pukul 07.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Menteri Haji dan Umrah Muchamad Irfan Yusuf turut melepas jamaah kloter SOC 1 dari Kabupaten Tegal, Jawa Tengah tersebut.
REPUBLIKA.CO.ID, Bulan Dzulhijjah dikenal sebagai salah satu bulan mulia dalam kalender Islam, di mana amal-amal saleh mendapat ganjaran berlipat. Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji adalah puasa Arafah, yang dilaksanakan setiap 9 Dzulhijjah, sehari sebelum Idul Adha.
Disebut sebagai puasa Arafah mengingat kesamaan waktunya dengan wukufnya jamaah haji di Padang Arafah, yakni sembilan Dzulhijjah. Mereka yang tidak wukuf di Arafah juga bisa mendapatkan keutamaan pahala di sisi Allah dengan berpuasa. Dalam hadis diterangkan, "Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hambanya dibanding Hari Arafah." (HR Muslim).
Salah satu makna dari hari raya, yakni perayaan kemenangan setelah melewati suatu ujian. Hari Raya Idul Fitri merayakan kemenangan setelah sebulan lamanya berpuasa. Demikian juga, dengan Hari Raya Idul Adha yang juga diawali dengan puasa. Kendati tidak diwajibkan seperti puasa Ramadhan, puasa jelang Idul Adha sangat dianjurkan bagi mereka yang tidak menunaikan haji.
Puasa pada awal bulan Dzulhijah ini sering dinamakan puasa Arafah. Penamaan ini mengingat kesamaan waktunya dengan wukufnya jamaah haji di Padang Arafah, yakni sembilan Dzulhijjah. Mereka yang tidak wukuf di Arafah juga bisa mendapatkan keutamaan pahala di sisi Allah dengan berpuasa. Dalam hadis diterangkan, "Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hambanya dibanding Hari Arafah." (HR Muslim).
Model puasa Arafah ada beberapa tahapan. Ada yang berpuasa sembilan hari dari tanggal satu hingga sembilan Dzulhijah, ada pula yang berpuasa hanya tanggal sembilan Dzulhijah saja. Hal ini berdalil dari hadis Rasulullah SAW, "Sesungguhnya Rasulullah SAW melakukan puasa sembilan hari pada awal bulan Dzulhijjah, Hari Asyura, dan tiga hari di setiap bulan." (HR Ahmad dan Nasa’i).
Puasa delapan hari pada tanggal 1-8 Dzulhijjah ada yang menamakan dengan puasa Tarwiyah. Penamaan ini karena bertepatan dengan prosesi tarwiyah jamaah haji. Puasa Tarwiyah berpedoman pada hadis, "Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah SAW; puasa hari Asyura, puasa 1-8 Dzulhijjah, tiga hari tiap bulan, dan dua rakaat sebelum Subuh." (HR Ahmad, Abu Daud, dan Nasai).
sumber : Pusat Data Republika

4 hours ago
8

















































