
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Krisis minyak dunia tidak selalu dimulai ketika minyak habis. Ia dapat dimulai ketika minyak masih tersedia, tetapi jalan untuk membawanya ke pasar semakin tertutup. Inilah yang sedang terjadi. Perang AS–Iran telah menjadikan Selat Hormuz sebagai titik paling rentan dalam perdagangan energi global.
Kini, ancaman itu bergerak ke selatan. Penguasaan Houthi atas sejumlah wilayah strategis di pesisir Laut Merah dan sekitar Bab el-Mandab membuka kemungkinan bahwa dua jalur vital energi dunia terganggu pada saat yang sama.
Inilah yang membuat situasi sekarang berbeda. Dunia bukan hanya menghadapi kenaikan harga minyak, melainkan krisis keamanan energi yang berpotensi berkembang menjadi krisis perdagangan global. Ketika dua chokepoint strategis berada dalam tekanan secara bersamaan, persoalannya bukan lagi sekadar berapa banyak minyak yang tersedia, tetapi apakah minyak tersebut masih dapat bergerak dengan aman menuju konsumen.
Selat Hormuz selama ini merupakan salah satu urat nadi utama energi dunia. Ketika perang membuat pelayaran di kawasan tersebut merosot tajam, pasar kehilangan kepastian. Kapal-kapal menunggu, perusahaan pelayaran menghitung ulang risiko, dan premi asuransi meningkat. Sejak perang meletus akhir Februari lalu, lalu lintas kapal komoditas di Hormuz anjlok hingga 95 persen dibandingkan kondisi sebelum perang, menurut data Kpler dan tekanan itu masih berlanjut hingga kini, jauh dari kata pulih. Tetapi persoalannya tidak berhenti di Hormuz.
Di sisi lain Semenanjung Arab, Houthi semakin menguasai pesisir Laut Merah Yaman. Mereka telah mengambil alih Mocha dan Perim, pulau strategis yang berada di tengah Bab el-Mandab. Penguasaan tersebut memberikan posisi penting untuk mengawasi salah satu jalur laut yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Perkembangan paling mengkhawatirkan adalah munculnya laporan mengenai penggunaan ranjau laut. Pemerintah Yaman sebelumnya melaporkan ditemukannya sebuah ranjau yang diduga dipasang Houthi di kawasan vital Bab el-Mandab. Pada 15 September, kembali muncul laporan bahwa Houthi menanam ranjau laut di atau sekitar selat tersebut, meskipun laporan terbaru itu belum memperoleh konfirmasi independen yang memadai.
Namun, bahkan tanpa memastikan seluruh laporan tersebut, ancamannya sudah cukup serius. Ranjau tidak harus benar-benar meledak untuk mengganggu perdagangan. Cukup dengan munculnya risiko ranjau, kapal komersial harus mengurangi kecepatan, mengubah rute, menunggu pengawalan, atau memilih jalur yang lebih panjang. Dalam perdagangan global, ketidakpastian sendiri adalah biaya. Satu kapal yang tertahan mungkin tampak kecil, tetapi ketika risiko tersebut terjadi pada sebuah chokepoint yang dilalui perdagangan internasional, dampaknya dapat berlipat ganda.
Bab el-Mandab bahkan lebih penting daripada sekadar jalur minyak. Selat ini merupakan pintu menuju Laut Merah dan Terusan Suez, sehingga gangguan di dalamnya dapat menghambat arus kapal yang menghubungkan Asia dan Eropa. Pengalaman serangan Houthi sebelumnya telah menunjukkan bagaimana perusahaan pelayaran memilih memutar melalui Tanjung Harapan ketika keamanan Laut Merah memburuk. Konsekuensinya adalah perjalanan lebih panjang, konsumsi bahan bakar lebih besar, biaya pengiriman meningkat, dan waktu distribusi bertambah.
Ironisnya, jalur yang dibangun untuk mengurangi ketergantungan pada Hormuz pun ikut menghadapi masalah. Serangan terhadap East-West Pipeline Saudi Arabia telah menghentikan salah satu jalur penting menuju terminal Yanbu di Laut Merah. Pada saat yang sama, kapal yang meninggalkan Yanbu menuju pasar internasional tetap menghadapi persoalan Bab el-Mandab. Dengan demikian, alternatif terhadap Hormuz ternyata tidak benar-benar bebas dari geopolitik.
Di sinilah letak persoalan sebenarnya: minyak mungkin masih ada, tetapi jalannya semakin terkunci.
Ketika Hormuz terganggu, Bab el-Mandab terancam, pipa alternatif diserang, dan kapal-kapal mulai menghindari kawasan berisiko, pasar energi kehilangan fleksibilitas. Dampaknya kemudian merambat dari minyak ke bahan bakar, logistik, industri, pangan, inflasi, dan biaya hidup. Krisis semacam ini juga memperlihatkan kelemahan arsitektur energi global yang terlalu bergantung pada sejumlah jalur geografis yang sempit. Selama jalur-jalur tersebut aman, ketergantungan itu tidak terlihat sebagai masalah. Tetapi ketika konflik mengubahnya menjadi senjata geopolitik, seluruh sistem perdagangan ikut merasakan akibatnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini tidak dapat dipandang sebagai konflik yang jauh di Timur Tengah. Indonesia adalah bagian dari ekonomi Asia yang sangat bergantung pada kelancaran perdagangan dan energi global. Ketika biaya transportasi dan energi meningkat, tekanan tersebut pada akhirnya masuk ke perekonomian domestik. Karena itu, ketahanan energi Indonesia tidak cukup hanya berbicara tentang cadangan dan impor. Diversifikasi sumber energi, jalur perdagangan, cadangan strategis, dan perlindungan terhadap rantai pasok harus menjadi bagian dari agenda keamanan nasional.
Karena itu, pertanyaan terbesar bukan lagi kapan harga minyak kembali normal. Pertanyaannya adalah: berapa lama dunia dapat mempertahankan perdagangan global ketika dua gerbang strategis energi—Hormuz dan Bab el-Mandab—sama-sama berada di bawah tekanan?
Krisis minyak baru tidak harus berarti dunia kehabisan minyak. Ia bisa berarti dunia kehilangan kemampuan untuk mengangkut minyak dengan aman. Dan ketika jalur minyak terkunci, yang ikut tersandera bukan hanya energi, melainkan perdagangan dunia.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

3 hours ago
6

















































