Nekat Bertahan di Lebanon, 10 Tentara IDF Tewas dan Terluka

6 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT – Pasukan Israel enggan meninggalkan wilayah yang dicaplok di Lebanon selatan meski gencatan senjata telah diumumkan. Akibatnya, sedikitnya saru tentara cadangan tewas dan sembilan lainnya terluka saat rombongan itu melindas bom yang ditanam Hizbullah.

The Times of Israel melansir, tentara-tentara yang terkena ledakan berasal dari Batalyon 7106 Brigade Regional “Hiram” ke-769, dari Ashdod. Insiden itu terjadi pada Sabtu, di tengah gencatan senjata yang sedang berlangsung di Lebanon. 

Selama operasi batalyon tersebut di wilayah yang dikuasai IDF di Lebanon selatan, sebuah kendaraan rekayasa melaju di atas sebuah bom yang ditanam oleh Hizbullah, menurut penyelidikan awal militer. Tentara yang ditempatkan di daerah tersebut untuk mengamankan alat-alat berat terkena ledakan tersebut, yang menyebabkan kematian satu orang dan sembilan lainnya luka-luka, termasuk empat orang dalam keadaan serius. 

Segera setelah ledakan, IDF menyerang beberapa sasaran di daerah tersebut. Tentara yang terluka diterbangkan ke rumah sakit dan keluarga mereka diberitahu, tambah pihak militer. Rincian lebih lanjut seputar insiden tersebut sedang diselidiki oleh militer.

Dengan kematian itu, total 16 tentara Israel diakui tewas di Lebanon. Sementara agresi brutal Israel ke wilayah selatan telah menewaskan lebih dari 2.000 warga Lebanon.

Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem sebelumnya memberikan pernyataan kepada TV al-Manar Lebanon, menggambarkan dokumen gencatan senjata sebagai penghinaan terhadap Lebanon. 

Dia mengatakan kelompoknya tidak harus mematuhi gencatan senjata sepihak, dan mereka tidak ingin kembali ke kondisi yang sama seperti yang terjadi dalam gencatan senjata 15 bulan sejak November 2024, ketika Israel melepaskan tembakan sesuka hati, dan Hizbullah tidak melakukannya. 

Dia menggambarkan bulan-bulan itu sebagai penantian diplomasi yang menurutnya tidak menghasilkan apa-apa. Di Lebanon, ribuan orang terus melakukan perjalanan ke selatan sepanjang hari. Saya sedang berbicara dengan beberapa dari mereka. 

Lalu lintas sekali lagi terhenti menuju ke Lebanon selatan pada Ahad pagi, namun jalan di utara juga sangat sibuk, dan orang-orang kembali pada sore dan malam hari. Meskipun banyak orang pergi ke selatan untuk memeriksa rumah mereka, mengambil barang-barang mereka, dan melakukan perbaikan kecil semampu mereka, sebagian besar tidak bermalam di rumah mereka. 

Hal ini karena masih ada rasa gentar dan ketidakpercayaan terhadap gencatan senjata ini, sehingga meskipun banyak yang pergi ke selatan, mereka kemudian kembali ke kota-kota besar, termasuk di sini di Beirut, untuk bermalam.

Read Entire Article
Politics | | | |