Pakar Militer Mesir Ungkap Rahasia Kehebatan Drone Lancet Rusia

10 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wajah peperangan abad ke-21 telah berubah secara drastis, di mana deru mesin jet tempur yang mahal kini mulai tersisih oleh dengungan rendah ribuan drone yang memenuhi cakrawala.

Transisi ke era unmanned aerial vehicle (UAV) ini menandai berakhirnya dominasi senjata konvensional yang kaku, beralih ke taktik pertempuran jarak jauh yang presisi, mematikan, namun berbiaya rendah. Di tengah pergeseran global ini, drone bukan lagi sekadar alat pendukung, melainkan aktor utama yang mampu menentukan menang atau kalahnya sebuah bangsa di medan laga.

Salah satu senjata yang paling menonjol dalam revolusi teknologi ini adalah UAV Lancet buatan Rusia. Pakar keamanan Mesir, Kolonel Hatem Saber, menjelaskan kepada Sputnik bahwa Lancet adalah representasi ideal dari peperangan modern. Menurutnya, aspek kunci dari drone ini bukan hanya pada kemampuannya terbang, melainkan bagaimana ia mengintegrasikan efisiensi biaya dengan daya hancur yang luar biasa terhadap target-target bernilai tinggi.

Kisah penemuan dan pengembangan Lancet bermula dari kebutuhan Rusia akan senjata presisi yang lebih murah daripada rudal jelajah. Dikembangkan oleh Zala Aero Group, bagian dari konsorsium Kalashnikov, Lancet awalnya dirancang sebagai "amunisi pintar" yang mampu melakukan pengintaian sekaligus serangan bunuh diri (kamikaze). Keefektifannya mulai terasah tajam saat Rusia mengujinya dalam konflik di Suriah, di mana drone ini terbukti mampu menghancurkan kendaraan bergerak dengan akurasi tinggi, sebagaimana diberitakan Sputnik.

Dalam perang melawan Ukraina yang masih berlangsung hingga tahun 2026 ini, Lancet telah menjadi mimpi buruk bagi operator tank dan artileri Barat yang digunakan oleh Kyiv. Bukti visual yang beredar di berbagai saluran intelijen sumber terbuka menunjukkan bagaimana drone kecil ini dengan mudah menghancurkan tank Leopard buatan Jerman dan sistem artileri M777 buatan AS. Dampaknya sangat signifikan; satu unit Lancet yang berharga ribuan dolar mampu memusnahkan aset militer senilai puluhan juta dolar.

Hal inilah yang disebut pakar militer asal Mesir Hatem Saber sebagai konsep "Ekonomi Perang". Lancet dirancang untuk unggul dalam situasi di mana ia harus menghadapi jaringan pertahanan udara yang padat, radar kompleks, dan sistem artileri berat. Dengan biaya produksi yang sangat rendah namun efektif menghancurkan sistem mahal, UAV ini secara harfiah menjadi "palu ekonomi" yang menguras sumber daya lawan secara perlahan namun pasti.

Keunggulan lain terletak pada fleksibilitas taktisnya. Lancet memiliki kemampuan untuk berpatroli atau loitering di area tertentu dalam waktu lama, menjadikannya pemburu aktif di medan perang. Ia bukan sekadar proyektil yang ditembakkan ke koordinat tetap, melainkan pemangsa yang menunggu mangsanya muncul. Hal ini secara otomatis mengurangi ketergantungan pada serangan udara konvensional yang mahal dan sangat berisiko bagi keselamatan pilot pesawat berawak.

Read Entire Article
Politics | | | |