Perubahan Iklim Ancam Kepunahan Sebagian Besar Tumbuhan pada Akhir Abad Ini

10 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, CALIFORNIA -- Peneliti memperingatkan perubahan iklim akan memicu kepunahan sebagian besar tumbuhan pada akhir abad ini. Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science, para ilmuwan mengatakan perubahan iklim mengubah bentuk dan kerap kali memperkecil habitat yang dibutuhkan sebagian besar tumbuhan untuk hidup.

Para peneliti membuat model perkiraan wilayah penyebaran berbagai jenis tumbuhan vaskular (tumbuhan berpembuluh) pada masa depan. Tumbuhan vaskular adalah tanaman yang mencakup hampir seluruh tumbuhan di dunia, yakni jenis tumbuhan yang memiliki jaringan khusus untuk mengalirkan air dan nutrisi.

Dalam penelitian tersebut, para ahli mengamati lebih dari 67.000 spesies atau sekitar 18 persen dari seluruh tumbuhan vaskular yang telah diketahui di dunia saat ini. Mereka menemukan 7 sampai 16 persen di antaranya berisiko kehilangan lebih dari 90 persen wilayah sebarannya sehingga berada dalam risiko kepunahan yang tinggi.

Tanaman-tanaman itu termasuk Catalina ironwood atau island ironwood, pohon endemik langka di California, lumut jarum biru dari garis keturunan tumbuhan yang berusia lebih dari 400 juta tahun, serta sekitar sepertiga spesies Eucalyptus, salah satu kelompok tumbuhan paling ikonik di Australia.

Para ilmuwan meneliti jutaan catatan lokasi tumbuhan kemudian memodelkan berbagai skenario emisi gas rumah kaca dari 2081 sampai 2100. Tumbuhan membutuhkan banyak syarat untuk bisa tumbuh, mulai dari suhu, curah hujan, kelembapan tanah, penggunaan lahan, hingga keteduhan lanskap.

“Salah satu cara untuk menggambarkan ini adalah membayangkan tumbuhan mencoba mengikuti pergerakan ruang kecocokan iklim (climate envelope). Saat suhu menghangat, banyak spesies berpindah ke utara atau ke dataran tinggi yang cukup dingin. Namun, suhu bukan satu-satunya syarat agar tumbuhan bisa tetap hidup,” kata para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini, Junna Wang dan Xialo Dong seperti dilansir dari Reuters, Jumat (24/5/2026).

Wang yang merupakan peneliti pascadoktoral Yale University dan Dong yang merupakan dosen kebijakan dan ilmu lingkungan University of California menjelaskan di banyak tempat perubahan iklim mempersempit ruang kecocokan iklim tumbuhan tersebut.

Tumbuhan harus “mengikuti” pergeseran ruang tersebut dengan cara menyebarkan biji atau sporanya ke tempat baru yang suhunya masih sesuai, misalnya berpindah lebih jauh ke arah kutub utara atau selatan atau naik ke dataran yang lebih tinggi demi mencari udara yang lebih sejuk.

“Jika permasalahan utamanya adalah pergerakan tumbuhan yang lambat, maka penyebaran tak terbatas seharusnya mengurangi risiko kepunahan, tapi bukan itu yang kami temukan,” kata Wang dan Dong.

Penelitian ini juga menemukan risiko kepunahan bukan hanya karena terbatasnya ruang penyebaran sebab hal itu bisa diatasi dengan membantu tumbuhan menyebarkan benih atau bijinya. Permasalahan utamanya adalah perubahan iklim yang terus memperkecil atau mempersempit habitat tumbuhan untuk bisa hidup.

“Bila perubahan iklim mengurangi jumlah habitat yang cocok, maka membantu spesies tumbuhan pindah tidak cukup membantu,” kata mereka.

Para peneliti menemukan hal ini akan terjadi di berbagai kawasan. Tumbuhan suhu dingin di Kutub Utara akan kehilangan habitatnya, begitu juga tumbuhan cuaca kering di Amerika Serikat dan kawasan Laut Tengah.

Perubahan iklim meningkatkan risiko kekeringan, menurunkan kelembapan tanah, dan memperparah kebakaran hutan dan lahan. Pada saat yang sama, sekitar 28 persen permukaan daratan bumi akan mengalami diversifikasi tanaman lokal karena tanaman bermigrasi ke wilayah baru yang kondisinya lebih cocok, misalnya pindah ke daerah tropis dan subtropis yang curah hujannya meningkat.

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai perombakan global (global reshuffling), yakni kondisi ketika beberapa spesies tanaman menghilang dari habitat historisnya, sementara spesies lain muncul di area baru. Namun, para peneliti menegaskan peningkatan jumlah tanaman di suatu wilayah baru bukan berarti kondisi tanaman secara keseluruhan di bumi membaik.

Pergeseran ini akan menciptakan komunitas tanaman baru (novel communities), yaitu kumpulan atau kombinasi jenis tumbuhan yang sebelumnya tidak pernah hidup bersama, tetapi kini terpaksa bertetangga untuk pertama kalinya. Para peneliti mengaku belum mengetahui secara pasti bagaimana interaksi antartanaman baru ini akan berlangsung.

Tanaman merupakan fondasi utama ekosistem darat karena berfungsi menyimpan karbon, menjaga kestabilan tanah, mendukung kehidupan satwa liar, serta menyediakan makanan, kayu, obat-obatan, dan bahan baku lainnya. Perubahan pada keanekaragaman tanaman akan membawa dampak beruntun bagi alam dan manusia.

Jika perubahan iklim merusak atau mengurangi tutupan vegetasi, ekosistem akan menyerap lebih sedikit karbon dioksida dari atmosfer. Hal ini memicu lingkaran setan (feedback loop): perubahan iklim merusak tanaman, lalu jumlah tanaman berkurang yang akhirnya menurunkan penyerapan karbon dioksida sehingga memperparah pemanasan global yang semakin merusak tanaman.

“Pada akhirnya, melindungi keanekaragaman hayati bukan hanya melestarikan alam untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjaga sistem ekologi yang menyangga masyarakat manusia,” kata Wang dan Dong.

Read Entire Article
Politics | | | |