Perubahan Iklim Geser Siklus Hidup Musiman Satwa Liar Dunia

3 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Analisis terbaru menegaskan dampak perubahan iklim terhadap perilaku satwa liar di seluruh dunia. Dalam analisis skala besar (meta-study), para peneliti lebih dari 60 lembaga penelitian menganalisis lebih dari 200 penelitian ilmiah pada 73 spesies hewan.

Dalam artikel yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications, para ilmuwan menjelaskan dampak perubahan iklim terhadap ciri-ciri fenologis, yaitu siklus hidup satwa seperti migrasi, reproduksi, hibernasi, dan metamorfosis. Para peneliti menyebutkan satwa dapat beradaptasi dengan perubahan iklim untuk mempertahankan kelangsungan spesiesnya. Namun, adaptasi ini mengubah perilaku mereka.

Para peneliti menganalisis 213 studi ilmiah untuk menelusuri keterkaitan antara perubahan iklim dengan fenologi, morfologi seperti ukuran tubuh, berat, atau bentuk, serta perkembangan populasi 73 spesies vertebrata. Dari 97 penelitian fenologi yang relevan, para ilmuwan menyimpulkan adanya bukti kuat siklus musiman satwa sangat dipengaruhi perubahan suhu.

Pada tahun-tahun yang lebih hangat, satwa menggeser waktu berkembang biak dan karakteristik fenologis lainnya, baik menjadi lebih awal maupun lebih lambat. “Kami berhasil menunjukkan pergeseran dalam peristiwa perkembangan musiman memungkinkan populasi satwa untuk tetap stabil atau bahkan meningkat jumlahnya,” kata penulis utama analisis ini, peneliti Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research (Leibniz-IZW), Viktoriia Radchuk, seperti dikutip dari Phys.org, Selasa (20/1/2026).

Radchuk mengatakan sebagian besar penelitian menunjukkan satwa liar menggeser siklus hidup musiman mereka untuk beradaptasi dengan perubahan suhu. Ia mencontohkan perubahan suhu yang menggeser waktu bertelur burung. Burung-burung akan bertelur pada waktu yang paling optimal.

Namun, meta-study tersebut juga menunjukkan banyaknya kasus maladaptasi terhadap perubahan iklim. Salah satu penulis analisis ini sekaligus peneliti dari University College Cork, Tom Reed, mengatakan dampak perubahan suhu terhadap satwa liar sangat bervariasi.

“Kami kemungkinan besar terutama berhadapan dengan apa yang disebut plastisitas sifat, dan pada periode yang diteliti belum dengan proses evolusioner. Sifat-sifat fenologis tampaknya memang dapat disesuaikan secara cukup fleksibel oleh hewan,” katanya.

Rata-rata, spesies yang hidup di lintang geografis lebih tinggi, yakni lebih dekat ke kutub, terbukti lebih sensitif terhadap suhu. Namun, selain lintang geografis, tidak ada karakteristik spesies lain yang dapat menjelaskan variasi sensitivitas iklim terhadap sifat fenotipik dan laju pertumbuhan populasi.

Variasi tersebut kemungkinan lebih dapat dijelaskan oleh kondisi habitat lokal dibandingkan karakteristik pada tingkat spesies, seperti waktu generasi dan pola migrasi. Analisis ini disusun oleh tim ilmuwan internasional dari lebih dari 60 lembaga riset yang dipimpin Leibniz-IZW, James Cook University, dan University College Cork.

Tim tersebut tidak hanya mencari bukti pengaruh perubahan iklim terhadap parameter kesehatan hewan tertentu seperti tingkat kelangsungan hidup atau keberhasilan reproduksi, tetapi juga terhadap perubahan jumlah populasi spesies-spesies tersebut. Sebagian besar penelitian yang dianalisis meneliti burung, yakni 65 persen, diikuti reptil 23 persen dan mamalia 10 persen.

Salah satu kriteria penting dalam pemilihan penelitian adalah ketersediaan kumpulan data jangka panjang mengenai variabel fenologis atau morfologis serta ukuran populasi, sehingga pola-pola tersebut dapat diungkap dengan tingkat kepercayaan yang tinggi. Sebagian besar penelitian yang dianalisis menggunakan data dengan rentang waktu 15 hingga 25 tahun.

Meta-study ini tidak menemukan bukti yang jelas mengenai dampak perubahan iklim terhadap morfologi hewan-hewan yang diteliti. Para ilmuwan berasumsi perubahan pada bentuk fisik atau ukuran tubuh terjadi jauh lebih lambat dibandingkan perubahan fenologis.

“Terlepas dari besarnya ukuran data dan durasi penelitian yang sering kali sangat panjang, meta-study ini hanyalah sorotan kecil terhadap dunia yang sangat kompleks dari dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati,” kata peneliti dari James Cook University, Martijn van de Pol.

Van de Pol mengatakan walaupun penelitian tentang dampak perubahan iklim terhadap morfologi satwa akan sangat informatif, penelitian lapangan masih sangat jarang, terutama bagi satwa di Global South. Meskipun meta-study ini memiliki keterbatasan dan belum mampu menjelaskan seluruh dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati, kumpulan data yang dihimpun tetap sangat berharga.

Data tersebut menyediakan informasi dasar yang selama ini dibutuhkan para ilmuwan untuk menyusun dan mengisi (memparametrisasi) model dinamika populasi mekanistik, yaitu model yang menjelaskan bagaimana populasi suatu spesies berubah dari waktu ke waktu berdasarkan proses biologis seperti kelahiran, kematian, dan respons terhadap lingkungan.

Read Entire Article
Politics | | | |