REPUBLIKA.CO.ID, BELEM — Lebih dari 35 lembaga filantropi global membentuk Climate and Health Funders Coalition untuk merespons krisis kesehatan yang kian memburuk akibat perubahan iklim. Koalisi ini mengumumkan komitmen awal sebesar 300 juta dolar AS pada Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) di Brasil. Pendanaan tersebut ditujukan untuk mempercepat aksi kesehatan-iklim di negara berpendapatan rendah dan menengah, yang kini menampung sekitar 3,3 miliar penduduk rentan.
Dana awal itu diarahkan untuk mendukung solusi terpadu dalam mengatasi penyebab dan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan, sekaligus memperkuat implementasi Belém Health Action Plan. Ini merupakan kerangka kerja global baru yang menempatkan kesehatan sebagai pusat kebijakan iklim.
Koalisi ini memadukan lembaga internasional, nasional, dan regional untuk meningkatkan kesehatan publik dan menyelamatkan nyawa. Beberapa pendonor utama di antaranya Bloomberg Philanthropies, Children’s Investment Fund Foundation, Gates Foundation, IKEA Foundation, Quadrature Climate Foundation, The Rockefeller Foundation, Philanthropy Asia Alliance dari Temasek Trust, serta Wellcome Trust.
Pendanaan 300 juta dolar AS itu difokuskan pada percepatan inovasi, penelitian, dan kebijakan yang berkaitan dengan gelombang panas ekstrem, polusi udara, hingga penyakit menular yang dipengaruhi perubahan iklim. Dana juga akan memperkuat integrasi data kesehatan dan iklim untuk membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh.
Para ahli menegaskan urgensi tindakan cepat. Sepuluh tahun terakhir menjadi periode terpanas dalam sejarah, dan suhu global diperkirakan tetap pada level tinggi dalam lima tahun ke depan. Pemanasan lebih dari 1,5 derajat Celsius berisiko memicu dampak ekstrem yang mengancam kesehatan manusia.
Kenaikan suhu memicu gelombang panas mematikan, polusi udara, penurunan kualitas gizi, ancaman kesehatan ibu dan bayi, serta penyebaran penyakit seperti malaria dan demam berdarah. Bencana cuaca ekstrem turut mengganggu pasokan pangan dan air, serta membebani layanan kesehatan, terutama di wilayah rentan.
Laporan Lancet Countdown 2025 mencatat angka kematian akibat panas naik 23 persen sejak 1990-an menjadi 546.000 per tahun. Sementara itu, pada 2024 terdapat 154.000 kematian terkait polusi udara dari asap kebakaran hutan. Risiko penularan global demam berdarah juga meningkat hingga 49 persen sejak 1950-an.
“Peringatan para ilmuwan kini menjadi kenyataan, dampak kenaikan suhu paling berat dirasakan oleh kelompok rentan, yaitu anak-anak, ibu hamil, lansia, pekerja luar ruangan, dan masyarakat dengan sumber daya terbatas,” kata CEO Wellcome Trust John-Arne Røttingen dalam pernyataannya, Kamis (13/11/2025).
Koalisi ini berupaya menyelaraskan dan memperluas pendanaan untuk menghadapi tantangan kesehatan dan iklim paling mendesak, sekaligus membuka investasi jangka panjang dari sektor publik, swasta, dan multilateral. Fokusnya mencakup penguatan sistem kesehatan, kebijakan berbasis bukti, serta riset untuk melindungi populasi paling berisiko.
“Perubahan iklim adalah ancaman kesehatan terbesar di era kita, dan tidak ada satu pihak pun yang bisa menghadapinya sendirian. Dengan bersatu, kita dapat mempercepat solusi, menjangkau lebih banyak komunitas, dan menciptakan dampak lebih besar,” kata Wakil Presiden Bidang Kesehatan The Rockefeller Foundation Naveen Rao.
Menurut Antha Williams dari Bloomberg Philanthropies, melindungi lingkungan berarti melindungi kesehatan dan mata pencarian manusia. Sonia Medina dari Children’s Investment Fund Foundation menambahkan hampir separuh anak di dunia hidup di negara yang berisiko tinggi terhadap dampak perubahan iklim.
Steve Davis dari Gates Foundation menekankan peran pendanaan filantropi dalam mempercepat inovasi kesehatan. CEO IKEA Foundation Jessica Anderen menilai kesehatan manusia dan perlindungan iklim merupakan tujuan yang tidak terpisahkan.
“Konsekuensi kesehatan akibat perubahan iklim semakin besar dan paling berat dirasakan oleh komunitas yang paling lemah,” kata CEO Quadrature Climate Foundation Jess Ayers.
Shaun Seow dari Philanthropy Asia Alliance menegaskan Asia menghadapi ancaman kesehatan iklim yang signifikan. “Melalui koalisi ini, kami mendukung solusi berani untuk melindungi masyarakat dan membangun ketahanan menghadapi masa depan yang lebih panas,” ujarnya.

3 hours ago
4













































