Quo Vadis Timteng Pasca-Khamenei: Nasib Poros Perlawanan dan Rekonfigurasi Tatanan Dunia

6 hours ago 6

Oleh: Fahmi Salim, Direktur Baitul Maqdis Institute

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prosesi pemakaman mendiang Ali Khamenei, Iran Supreme Leader yang berakhir di Mashad pada 9/7/2026 bukan hanya cerita duka rakyat Iran tapi menandai babak baru geopolitik Timteng.

Sejarah Timur Tengah selalu ditulis dengan tinta darah dan pergolakan, namun apa yang terjadi sejak meletusnya Operasi Taufanul Aqsa pada 7 Oktober 2023 hingga pertengahan 2026 ini bukan lagi sekadar siklus kekerasan biasa. Kita sedang menyaksikan keruntuhan sistemis lanskap geopolitik lama dan lahirnya sebuah rekonfigurasi tatanan dunia yang baru.

Pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di tengah lumpuhnya kekuatan Hamas di Gaza, hancurnya struktur komando Hizbullah di Lebanon, serta isolasi posisi Houthi di Yaman, dan sebelumnya rekonsolidasi Suriah pasca tumbangnya rejim Assad, menandai berakhirnya era Axis of Resistance (Poros Perlawanan) sebagaimana yang kita kenal selama dua dekade terakhir. Pertanyaan krusialnya kini: ‘Quo vadis’ Timur Tengah, dan ke mana arah bandul politik dunia Islam pasca-patahnya poros Teheran?

Garis Waktu Patahan Sejarah

Untuk memahami kerapuhan Poros Perlawanan hari ini, kita harus melihat kembali linimasa dramatis yang menguras habis ketahanan strategis mereka. Operasi Taufanul Aqsa awalnya dirancang Hamas sebagai serangan kejutan untuk mengubah perimbangan kekuatan (Balance of Power/BOP) di Timur Tengah, menggagalkan normalisasi hubungan Arab Saudi-Israel, serta menegaskan kembali isu Palestina di meja global. Secara taktis, operasi tersebut berhasil menjebak Tel Aviv dalam perang gesekan (war of attrition) yang berkepanjangan dan merusak citra moral Israel di panggung internasional.

Namun, harga yang harus dibayar sangatlah mahal. Respons militer Israel yang brutal, didukung penuh oleh pasokan logistik dan payung politik Amerika Serikat, secara bertahap mendegradasi kemampuan konvensional jaringan proksi Iran. Sepanjang tahun 2024 hingga 2025, kita melihat pembubaran sistematis infrastruktur militer Hamas yang berujung pada keputusan taktis mereka untuk mundur sepenuhnya dari tata kelola administratif Jalur Gaza demi mematahkan dalih pendudukan Israel.

Di utara, Hizbullah Lebanon, yang kehilangan sekian banyak komandan elit dan ratusan ribu roketnya akibat perang kilat, dipaksa masuk ke dalam fase rekonstruksi yang defensif di utara Sungai Litani. Sementara itu, Houthi di Yaman, yang sempat menjungkirbalikkan ekonomi maritim di Laut Merah, kini menghadapi isolasi militer yang kian pekat tanpa adanya tekanan simultan dari Gaza dan Lebanon.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |