REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mereka menebang sebagian hutan Amazon. Lalu, lima tahun kemudian, mereka mengembalikannya menjadi hutan lagi.
Di saat pertanian modern dituduh menjadi salah satu penyebab hilangnya hutan tropis dunia, masyarakat adat di Amazon justru menjalankan sistem yang tampak mustahil: membuka lahan tanpa menghancurkan hutan. Bagaimana caranya?
Di pedalaman Amazon Kolombia, Kelly Johanna Yucuna berjalan memasuki sebidang lahan yang bagi orang luar terlihat berantakan. Tidak ada barisan tanaman yang lurus. Tidak ada hamparan monokultur sejauh mata memandang.
Namun justru di sanalah rahasianya. Lahan itu disebut chagra, sistem pertanian masyarakat adat yang telah bertahan sedikitnya 4.500 tahun.
Setiap petaknya tidak lebih besar dari dua hektare, tetapi mampu memberi makan ratusan keluarga tanpa pestisida, tanpa pupuk kimia, dan tanpa mengubah hutan menjadi gurun hijau seperti banyak perkebunan industri.
Yang lebih mengejutkan, lahan itu tidak digunakan selamanya. Setelah lima atau enam tahun, masyarakat adat meninggalkannya. Tidak ada buldoser. Tidak ada beton. Tidak ada pagar.
Mereka membiarkan alam mengambil kembali apa yang sebelumnya mereka pinjam. Perlahan-lahan pohon tumbuh lagi. Semak kembali rapat. Burung dan satwa liar berdatangan. Dalam beberapa tahun, bekas ladang itu berubah menjadi hutan baru.
Di dunia yang sibuk mencari solusi perubahan iklim, mungkinkah jawabannya justru telah hidup di Amazon selama ribuan tahun?
Temuan ilmiah modern menunjukkan kemungkinan itu tidak berlebihan. Pada 2020, tim peneliti yang dipimpin Marco Heredia-R menerbitkan studi berjudul Sustainability Assessment of Smallholder Agroforestry Indigenous Farming in the Amazon: A Case Study of Ecuadorian Kichwas di jurnal internasional Agronomy.
Setelah meneliti 133 keluarga masyarakat Kichwa di Cagar Biosfer Yasuní, Ekuador, mereka menemukan bahwa sistem chakra, kerabat dekat chagra di Amazon, memiliki kinerja tinggi dalam penggunaan lahan, pengelolaan air, ketahanan iklim, dan pelestarian keanekaragaman hayati.
Bagi para ilmuwan, sistem ini bukan sekadar warisan budaya. Ia adalah model keberlanjutan yang masih hidup.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa chakra memiliki kompleksitas ekologis yang tinggi, menyimpan karbon dalam jumlah besar, mempertahankan keragaman pohon, sekaligus menyediakan pangan, tanaman obat, dan sumber pendapatan bagi masyarakat setempat.
Temuan itu menarik perhatian karena muncul ketika dunia sedang mencari cara memproduksi pangan tanpa mempercepat krisis iklim.
Lalu bagaimana sebenarnya sistem ini bekerja?
Bagi masyarakat adat Yucuna, chagra bukan sekadar ladang. Ia adalah bagian dari kosmologi.
Sebelum pohon pertama ditebang, para tetua berkumpul. Mereka memilih lokasi dengan hati-hati, lalu meminta izin kepada roh penjaga hutan yang diyakini sebagai pemilik sejati tanah tersebut.

2 hours ago
6
















































