REPUBLIKA.CO.ID, BALIKPAPAN -- PT Pertamina (Persero) menegaskan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan sebagai proyek strategis nasional yang menjadi penopang utama pasokan bahan bakar minyak (BBM). Proyek yang dimulai sejak 2019 ini memodernisasi kilang eksisting sekaligus membangun infrastruktur energi terintegrasi, mulai dari penerimaan minyak mentah hingga distribusi produk.
Proyek dengan investasi setara Rp 123 triliun ini menargetkan peningkatan kapasitas pengolahan minyak, produksi BBM berkualitas tinggi dan ramah lingkungan, serta mendorong hilirisasi industri petrokimia. Pembangunan tersebut menjadi fondasi penting bagi ketahanan dan kemandirian energi nasional.
“RDMP Balikpapan menjadi fondasi penting penguatan sistem energi nasional. Melalui pengembangan infrastruktur yang terintegrasi, Pertamina memastikan keandalan pasokan minyak mentah dan operasional kilang yang lebih efisien serta berkelanjutan,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron, Sabtu (10/1/2026) lalu.
Proyek RDMP Balikpapan dilaksanakan dalam tiga lingkup utama. Lingkup pertama adalah early work yang mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan, seperti persiapan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, utilitas sementara, serta fasilitas pendukung konstruksi.
Lingkup kedua meliputi pembangunan 39 unit fasilitas utama kilang, termasuk 21 unit proses baru, 13 unit utilitas, serta revitalisasi empat unit utama pengolahan, seperti distilasi, residu, hydrocracking, hydrotreating, dan pemulihan LPG.
Lingkup ketiga berfokus pada penguatan infrastruktur penerimaan dan penyaluran minyak mentah. Lingkup ini mencakup pembangunan dua tangki penyimpanan berkapasitas 1 juta barel, jaringan pipa onshore-offshore, unloading line, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) untuk kapal hingga 320.000 DWT.
Baron menegaskan proyek ini tidak hanya mendukung keandalan operasional kilang, tetapi juga ketahanan energi nasional jangka panjang. “RDMP Balikpapan akan mendukung visi Asta Cita Pemerintah dalam menjaga ketahanan dan kemandirian energi nasional,” ujarnya.
Sebagai bagian dari transformasi energi, Pertamina mengintegrasikan target Net Zero Emissions 2060 dalam pembangunan dan operasional kilang. Seluruh kegiatan mengikuti prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yang menegaskan arah perusahaan dalam tata kelola, pelayanan publik, dan keberlanjutan usaha.

10 hours ago
5














































