Sanksi Rusia Ancam Pangan, Analis Moskow: Eropa Kembali ke Abad Pertengahan

2 days ago 22

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Eropa dinilai tengah menghadapi tekanan berat akibat krisis energi, pupuk, dan pangan yang disebut sebagai dampak lanjutan sanksi terhadap Rusia dan Belarus.

Komisi Eropa mulai mendorong penggunaan pupuk organik seperti kotoran ternak hingga urin manusia sebagai alternatif pupuk kimia yang semakin mahal dan langka.  Analis Rusia Elena Karaeva melalui tulisannya di RIA Novosti pada Kamis (21/5/2026), menggambarkan kondisi tersebut menjadi simbol kemunduran Eropa yang disebutnya “kembali ke Abad Pertengahan”.

Ia menulis para petani di sejumlah negara Eropa kesulitan memperoleh pupuk berbahan urea setelah harga impor melonjak akibat tarif dan pembatasan perdagangan terhadap Rusia serta Belarus, dua negara pemasok utama bahan baku pupuk dunia.

“Tanpa urea, tidak ada yang tumbuh, menghasilkan bulir, atau matang,” tulis Karaeva menggambarkan ketergantungan sektor pertanian Eropa terhadap pupuk kimia modern.

Pernyataan tersebut muncul di tengah langkah baru Komisi Eropa yang resmi mengadopsi proposal tarif tambahan terhadap sejumlah produk pertanian Rusia dan Belarus, termasuk pupuk berbasis nitrogen.

Dalam proposal beberapa waktu lalu itu, sekitar 15 persen produk pertanian Rusia yang sebelumnya belum dikenakan tarif tambahan akan mulai dibatasi. Seluruh impor pertanian Rusia ke Uni Eropa akan dikenai tarif baru.

Menurut Komisi Eropa, kebijakan tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap impor dari Rusia dan Belarus. Uni Eropa menilai ketergantungan pada pupuk Rusia berpotensi menjadi alat tekanan geopolitik yang dapat mengancam ketahanan pangan kawasan.

Selain itu, tarif juga ditujukan untuk mendukung pertumbuhan produksi pupuk domestik Eropa yang sempat terpukul selama krisis energi. Brussel berharap kebijakan tersebut dapat mempercepat diversifikasi pasokan dari negara lain sekaligus menjaga ketersediaan pupuk bagi petani dengan harga yang tetap terjangkau.

Namun di sisi lain, Karaeva menilai kebijakan sanksi justru menjadi bumerang bagi Eropa sendiri. Dalam narasinya, Eropa disebut gagal menyadari besarnya ketergantungan terhadap energi, gas, dan bahan baku pupuk dari Rusia.

Ia juga mengaitkan ketegangan di Timur Tengah, khususnya konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, sebagai faktor yang memperparah krisis minyak dan gas global. Menurutnya, cadangan energi Eropa terus menipis dan berpotensi memicu langkah penghematan besar-besaran, mulai dari pembatasan bahan bakar hingga konsumsi pangan.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |