Sastra Santri Jadi Ruang untuk Merawat Tradisi Intelektual

7 hours ago 16

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dunia pesantren dinilai memiliki potensi besar dalam memperkaya khazanah sastra dan kebudayaan Indonesia. Tradisi keilmuan pesantren yang berpadu dengan kreativitas santri dinilai dapat melahirkan karya sastra yang merekam dinamika kehidupan dan perubahan zaman.

Hal tersebut mengemuka dalam Halaqoh Sastra Santri Nusantara dan peluncuran Buku Antologi Karya Sastra Santri Nasional yang digelar Majalah Risalah NU di Aula Yacob Oetama Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Buku antologi tersebut memuat karya 50 santri terpilih dalam Lomba Cerpen Nasional 2025. Mereka terpilih dari sekitar 500 peserta yang mengikuti kompetisi dari berbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah alim ulama, tokoh Nahdlatul Ulama (NU), akademisi, sastrawan, budayawan, santri, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, kader Fatayat NU DKI Jakarta, serta para peserta dan undangan lainnya.

Dalam agenda bedah buku, panitia menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki latar belakang di bidang sastra dan jurnalistik. Mereka antara lain Dinaldo, aktivis NU sekaligus penulis sastra, Yudhiarma, penulis buku dan jurnalis senior, serta Jahid Lukman yang juga menjadi salah satu juri Lomba Cerpen Nasional 2025.

Ketua Panitia Halaqoh Sastra Santri Nusantara, Jahid Lukman, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat tradisi literasi dan kreativitas sastra di kalangan santri. Halaqoh juga menjadi ruang perjumpaan antara santri, penulis, pegiat literasi, budayawan, akademisi, dan pemerhati pesantren.

Menurut dia, sastra tidak semata-mata dipandang sebagai karya seni dan ekspresi kreatif. Sastra juga dapat menjadi bagian dari tradisi intelektual yang tumbuh di lingkungan pesantren.

"Jadi, sastra tidak hanya dipandang sebagai karya seni dan ekspresi kreatif, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi intelektual pesantren," ujar Jahid dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Sabtu (19/9/2026). 

Read Entire Article
Politics | | | |