Tentara Denmark menurunkan kapal di pelabuhan di Nuuk, Greenland, 18 Januari 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ambisi besar Washington untuk memperluas cakrawala kedaulatannya kini telah mencapai titik didih, di mana Greenland bukan lagi sekadar pulau es raksasa yang terpencil, melainkan bidak utama dalam papan catur geopolitik abad ke-21.
Di bawah kepemimpinan Donald Trump, Amerika Serikat secara terang-terangan meluncurkan upaya aneksasi yang paling berani dalam sejarah modern, memicu guncangan hebat di jantung Eropa sekaligus memaksa dunia untuk mendefinisikan ulang arti keamanan nasional dan integritas teritorial di kutub utara.
Presiden Donald Trump pada hari Senin (19/1/2026) menegaskan bahwa Amerika Serikat akan membawa isu akuisisi Greenland ke meja perundingan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos pekan ini. Alasan utama yang dilontarkan Trump adalah ketidakmampuan Denmark dalam melindungi wilayah tersebut secara militer dan ekonomi. “Kita harus memilikinya. Denmark adalah bangsa yang luar biasa, tapi mereka bahkan tidak bisa sampai ke sana untuk melindunginya,” ujar Trump kepada wartawan di Florida dengan nada tegas namun diplomatis, sebagaimana diberitakan al-Arabiya.
Keinginan Trump untuk menguasai Greenland bukanlah sebuah kejutan mendadak, melainkan akumulasi dari rencana sistematis yang dimulai sejak periode pertama kepemimpinannya. Kronologi ketegangan ini memuncak pada tahun 2019 ketika Trump pertama kali melontarkan ide pembelian Greenland secara terbuka, yang saat itu ditanggapi dengan penolakan keras dan ejekan dari pemerintah Denmark yang menyebutnya sebagai lelucon "absurd". Namun, apa yang semula dianggap lelucon, bertransformasi menjadi strategi agresif setelah ia kembali terpilih menjadi Presiden AS.
Memasuki tahun 2025, Washington mulai meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Denmark melalui ancaman tarif perdagangan dan pengurangan dukungan keamanan di kawasan Baltik. Trump menggunakan argumen bahwa mencairnya es di kutub telah membuka rute pelayaran baru yang sangat rentan terhadap infiltrasi Rusia dan China.
Amerika Serikat memandang bahwa membiarkan Greenland tetap di bawah kedaulatan Denmark yang "lemah" adalah risiko keamanan yang tidak dapat diterima bagi kepentingan NATO dan keamanan Amerika Utara.
sumber : Antara

3 hours ago
7















































