Masjid Sabilurrohman
Khazanah | 2026-02-14 18:25:07
Dalam hening malam, doa yang tulus menjadi cahaya yang menghidupkan jiwa.
Banyak orang beribadah. Masjid penuh, sajadah terbentang, doa terucap. Namun tidak semua merasakan hidupnya jiwa. Mengapa ada yang selesai shalat tetapi tetap gelisah? Mengapa ada yang rajin beramal, tetapi hatinya masih terasa kosong?
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ
“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu ”
(QS. Al-Baqarah: 21)
Seruan ini bukan sekadar perintah ritual. Ia adalah panggilan untuk sadar kembali: kita adalah makhluk, dan Dia adalah Rabb yang menciptakan, memelihara, dan menggenggam hidup kita.
Ibadah yang sejati melahirkan ketundukan. Ketundukan melahirkan ketenangan. Dan ketenangan melahirkan kekuatan.
Ketika seseorang benar-benar menyadari bahwa ia sedang berdiri di hadapan Rabb semesta alam, ia tidak lagi mudah sombong. Ia tahu dirinya kecil. Ia sadar semua nikmat hanyalah titipan. Ia tidak mudah putus asa, karena ia tahu tempat bergantungnya tidak pernah goyah.
Shalat bukan sekadar kewajiban lima waktu. Ia adalah jeda dari kecemasan. Saat dahi menyentuh tanah, ego ikut diluruhkan.
Puasa bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah latihan menahan keinginan.
Zikir bukan sekadar rangkaian lafaz. Ia adalah pengingat bahwa Allah lebih dekat dari yang kita kira.
Namun ibadah hanya menghidupkan jiwa ketika hati hadir di dalamnya. Tanpa kesadaran, ibadah menjadi rutinitas. Dengan kesadaran, ia menjadi cahaya.
Jangan hanya menambah jumlah ibadah, tetapi tambahkan kehadiran hati. Kurangi tergesa-gesa dalam shalat. Hadirkan rasa butuh dalam doa. Resapi setiap takbir sebagai pengakuan bahwa Allah lebih besar dari semua masalahmu. Ibadah yang hidup bukan yang paling panjang, tetapi yang paling sadar.
Barangkali bukan hidup kita yang terlalu berat. Bisa jadi hati kita yang terlalu jauh dari Allah.
Malam menutup dengan pelan: jika jiwa terasa lelah, jangan lari dari ibadah. Datanglah lebih dekat. Karena di sanalah jiwa dihidupkan kembali.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

3 hours ago
7














































