Tembus 50 Ribu Kasus ISPA di Wilayah Terdampak Karhutla dalam Dua Bulan

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) meningkat signifikan seiring kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kementerian Kesehatan mencatat, kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla tembus 50.891 kasus sejak Juli hingga Agustus 2026.

Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis penyakit paru (kanker paru/respiratori) sekaligus dosen Universitas Gadjah Mada, dr Ika Trisnawati, mengatakan asap yang timbul akibat karhutla dapat meningkatkan kasus gangguan saluran pernapasan seperti ISPA. Apalagi pada musim kemarau, paparan kabut asap dan partikel debu lebih mudah terbawa angin dan kemudian masuk ke saluran pernapasan.

"Adanya peningkatan ISPA di periode musim kemarau itu karena pada saat kemarau tentu saja akan banyak partikel debu. Partikel-partikel debu kecil yang terbawa oleh angin berada di udara bebas dan kemudian terhirup di pernapasan," kata dr Ika dalam keterangan tertulis, dikutip pada Sabtu (5/9/2026).

la kemudian mengungkap cara mudah mengenali gejala ISPA. Menurut dr Ika, gejala ISPA yang umum meliputi batuk dan pilek yang dapat menyerang hidung, tenggorokan, hingga saluran pernapasan. Pada kondisi infeksi, gejala tersebut juga dapat disertai demam.

Batuk pada awal infeksi virus umumnya kering, sedangkan batuk dengan dahak yang berubah warna menjadi kekuningan dapat menunjukkan adanya infeksi bakteri. "Kalau untuk ISPA ringan yang disebabkan paparan debu dan asap sesaat. Umumnya kondisinya dapat membaik dalam tiga hingga lima hari," ujar dr lka.

Dia mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri apabila keluhan tidak membaik atau justru semakin berat. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain demam yang tidak turun, dahak semakin banyak dan berubah warna menjadi kekuningan, serta sesak napas yang memburuk.

Khusus pada anak-anak yang lebih rentan terjangkit ISPA disertai dengan gejala suara mengi atau "ngik-ngik" saat bernapas perlu segera diperiksakan. "Pemeriksaan dapat dimulai di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas atau layanan kesehatan primer. Patokannya bukan ISPA dari infeksi virus atau bakteri itu mana yang paling berat, tetapi pada gejalanya," kata dia.

Dia mengungkapkan individu dengan penyakit paru kronis termasuk kelompok yang rentan. Kelompok tersebut mencakup penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) akibat rokok, tuberkulosis paru, hingga kanker paru.

Selain itu, masyarakat dengan penyakit kronis lain seperti diabetes, penyakit jantung, dan gagal ginjal juga termasuk kelompok yang rentan mengalami ISPA. Lansia juga memiliki risiko lebih tinggi. Hal tersebut berkaitan dengan penurunan fungsi organ, termasuk saluran pernapasan, seiring bertambahnya usia.

Read Entire Article
Politics | | | |