Tumbuh Bersama Mereka (Mahasiswa) Sitti Aisyah

2 hours ago 2

Image Rezky Amalia

Pendidikan | 2026-01-20 14:01:37

 

Memiliki prinsip “being well prepared and you will be fine” akhirnya mengantarkan saya menjadi salah satu tutor pendidikan di KonsultanEdu. Ya, benar. Saat itu saya belum selesai kuliah, namun keresahan saya tentang sulitnya mencari pekerjaan setelah lulus membuat saya memberanikan diri untuk mendaftar sebagai tutor magang di KonsultanEdu. Saya percaya bahwa persiapan matang sebelum lulus akan membuka jalan. Dengan bergabung lebih awal, saya berharap bisa memiliki pekerjaan tetap setelah lulus dan membangun karir dengan lebih tenang. Setelah melewati masa magang dan training yang cukup panjang, akhirnya saya dinyatakan lolos sebagai tutor tetap sekaligus menuntaskan studi magister saya.

Menjadi tutor di KonsultanEdu merupakan salah satu pengalaman yang amat berharga bagi saya. Hingga saat tulisan ini dibuat, saya sudah mendampingi lebih dari seratus (100) mahasiswa dengan latar belakang universitas, program studi, jenis penelitian, hingga kondisi psikologis yang beragam. Saya sengaja menekankan aspek psikologis ini, karena menurut saya menyelesaikan tugas akhir bukan hanya soal kecerdasan intelektual, melainkan juga kecerdasan emosional. Kondisi mental mahasiswa sangat menentukan keberhasilan mereka melewati fase akhir perkuliahan ini.

Dalam proses membimbing, saya menemukan banyak ragam mahasiswa dalam merespon kesulitan dalam mengerjakan tugas akhir. Ada yang tahan banting—apapun revisi dari dosen pembimbing, mereka terima dengan lapang dada lalu segera dikerjakan penuh semangat. Ada pula yang harus menitikkan air mata setiap kali menerima komentar, lalu membutuhkan waktu lama untuk kembali bangkit. Semua itu wajar, karena setiap orang memiliki ketahanan mental yang berbeda. Justru di situlah letak tantangan saya sebagai tutor, yaitu tidak hanya membantu mahasiswa memahami alur penelitiannya, tetapi juga menjadi ruang aman bagi mereka untuk mencurahkan keluh kesah.

Saat mahasiswa datang untuk berkonsultasi, saya sering mendapati beragam cerita. Ada yang cemas, bingung, bahkan hampir menyerah sebelum benar-benar menulis. Pada tahap awal, saya biasanya mendengarkan dengan seksama untuk memahami kebutuhan mereka. Ada yang kesulitan merumuskan judul, ada yang tersendat di metodologi, dan tidak jarang ada yang hanya kehilangan semangat. Dari situ, saya berusaha menganalisis bagian mana yang menjadi hambatan utama. Setelah mengetahui letak masalahnya, saya memberi dorongan agar mereka tidak merasa sendirian menghadapi proses ini. Kadang cukup dengan kalimat sederhana seperti mengingatkan bahwa skripsi bisa diselesaikan sedikit demi sedikit, atau membagi target harian agar tidak terasa terlalu berat. Strategi kecil semacam ini terbukti membantu mahasiswa menjaga ritme, mengurangi stres, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri bahwa mereka mampu menyelesaikan penelitiannya.

Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika saya mendampingi seorang mahasiswa dari jurusan Pendidikan Kimia, sama seperti latar belakang saya. Menurut saya, pendidikan kimia adalah salah satu jurusan yang cukup sulit karena materinya abstrak dan rumit. Menulis skripsi dengan komposisi 50% ilmu kimia dan 50% metode penelitian tentu bukan hal mudah. Jika sebagian mahasiswa lain meneliti tentang penerapan model pembelajaran atau analisis kegiatan belajar di kelas, mahasiswa saya yang satu ini harus membuat rancangan praktikum kimia organik—salah satu mata kuliah tersulit di kimia—dan sekaligus menguasai model penelitian Research and Development.

Dengan tantangan yang begitu rumit, tidak jarang setelah mendapat revisi ia menangis dan mengadu kepada saya. Saat itu saya menyadari, yang ia butuhkan bukan sekadar solusi teknis, melainkan juga dukungan emosional. Saya pun berusaha menjadi pendengar terlebih dahulu, memvalidasi perasaannya, dan membiarkan ia meluapkan rasa frustasi. Baru setelah itu saya menenangkannya dengan perspektif baru “revisi bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari proses penelitian.” Saya bantu ia memecah revisi yang tampak rumit menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikerjakan.

Karena penelitian itu cukup kompleks, ia beberapa kali memperpanjang masa bimbingan dan tetap memilih saya sebagai tutornya. Dari sini saya juga melihat bagaimana proses belajarnya berkembang. Jika sebelumnya ia butuh waktu lama untuk menenangkan diri, kini ia bisa bangkit lebih cepat dan mulai membaca ulang komentar dosen dengan lebih tenang. Saya terharu ketika akhirnya ia mendapatkan jadwal sidang proposal dan berkata, “Kak, terima kasih. Kalau tidak ada bimbingan dari Kakak, saya tidak tahu harus bagaimana”. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa peran tutor tidak hanya soal metodologi, tetapi juga empati. Tugas saya bukan sekadar membantu memahami revisi, melainkan juga menumbuhkan kembali kepercayaan diri mahasiswa yang hampir hilang.

Selain kisah tersebut, ada pula mahasiswa lain yang justru mengajarkan saya arti kegigihan. Mahasiswa ini mengambil data penelitian di luar negeri, tepatnya di Malaysia. Tentu saja, tidak mudah mengurus penelitian lintas negara. Ia menghadapi banyak kesulitan, bahkan datanya harus berkali-kali direvisi oleh saya sebelum sampai ke dosen pembimbingnya. Namun, ia mampu menerima semua revisi dengan penuh semangat, bahkan menyebut setiap komentar dosen dan tutor sebagai “peluang untuk belajar.” Berkat kegigihannya, ia bisa menyelesaikan tugas akhir kurang dari satu bulan. Dari dirinya, saya belajar bahwa ketahanan mental dapat mengubah proses skripsi yang melelahkan menjadi perjalanan intelektual yang membahagiakan.

Perjalanan saya sebagai tutor di KonsultanEdu tidak hanya berhenti pada upaya membimbing ratusan mahasiswa menyelesaikan tugas akhir mereka. Lebih dari itu, saya merasa mendapat kesempatan untuk belajar banyak hal yang justru membentuk diri saya sendiri. Saya belajar tentang kesabaran ketika harus mengulang penjelasan yang sama berkali-kali dengan cara berbeda agar mahasiswa benar-benar paham. Saya belajar tentang empati saat harus memahami tangisan atau keluhan mereka yang merasa tertekan dengan proses panjang ini. Saya belajar tentang komunikasi yang efektif, bagaimana memilih kata yang tepat agar mampu menenangkan sekaligus memotivasi. Dan saya juga belajar tentang manajemen waktu, sebab setiap pertemuan dengan mahasiswa menuntut saya untuk pintar mengatur prioritas di tengah kesibukan pribadi saya.

Bagi saya, setiap mahasiswa datang dengan ceritanya masing-masing. Ada yang penuh semangat, ada yang penuh keraguan, bahkan ada yang nyaris menyerah. Tugas saya bukan sekadar memberi arahan teknis, melainkan menemani mereka melewati fase sulit itu dengan rasa aman. Karena itu, saya selalu berusaha membimbing dengan gaya yang santai dan nyaman, tetapi tetap telaten. Saya memposisikan diri sebagai teman diskusi yang bisa mendengarkan kebingungan mereka tanpa menghakimi. Saya selalu mengingatkan bahwa wajar jika kita merasa takut pada ketidakpastian masa depan, kita takut karena kita belum tahu. Namun, ketika ilmu sudah kita kuasai, revisi sebanyak apa pun tidak lagi menakutkan.

Untuk membantu mereka memahami hal ini, saya sering menggunakan analogi sederhana. Saya katakan, “Coba ingat waktu kita masih SD. Kita dulu sangat tidak suka dengan perkalian atau pembagian karena terasa sulit sekali. Namun, sekarang kalau kita melihat kembali soal-soal itu, rasanya justru sangat mudah. Kenapa? Karena sekarang kita sudah tahu ilmunya.” Dengan cara itu, saya ingin menegaskan bahwa rasa takut mereka terhadap skripsi hanyalah karena mereka belum memahami sepenuhnya. Begitu mereka tahu alurnya, semua akan terasa jauh lebih ringan.

Selain itu, saya juga sering menyampaikan pesan kecil yang menurut saya sangat penting: lakukan progres sekecil apapun setiap harinya. Saya percaya bahwa keberhasilan bukanlah hasil dari langkah besar dalam sekejap, melainkan akumulasi dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Untuk memperkuat pesan itu, saya suka berbagi hasil bacaan saya, salah satunya dari buku The Atomic Habits karya James Clear. Dalam buku itu, dijelaskan betapa perubahan-perubahan kecil yang dilakukan secara berulang bisa membawa dampak besar di kemudian hari. Saya biasanya memberi contoh sederhana, “Hari ini cukup targetkan menulis satu kalimat saja. Jangan terbebani harus menulis satu halaman penuh. Jika konsisten, satu kalimat itu akan berkembang menjadi paragraf, kemudian halaman, hingga akhirnya skripsi selesai.”

Saya merasa sangat bahagia ketika mahasiswa benar- benar mencoba menerapkan hal itu. Ada yang mulai mengirimkan hasil tulisan mereka sedikit demi sedikit setiap hari, ada pula yang dengan semangat bercerita bahwa strategi itu membantu mereka merasa lebih ringan. Momen-momen kecil seperti itu membuat saya semakin yakin bahwa peran saya sebagai tutor bukan hanya membantu mereka menulis, tetapi juga menanamkan keyakinan bahwa mereka mampu melewati proses ini. Melihat mahasiswa yang awalnya cemas, bingung, bahkan hampir menyerah, bisa tersenyum lega ketika akhirnya berhasil menyelesaikan tugas akhir, adalah kepuasan terbesar bagi saya.

Semakin ke sini, saya juga semakin menyadari bahwa niat awal saya bergabung sebagai tutor di KonsultanEdu adalah untuk membagikan ilmu dan membantu mahasiswa menuntaskan tugas akhirnya. Namun, pada akhirnya justru saya sendirilah yang paling banyak mendapatkan ilmu dari mereka. Setiap mahasiswa hadir dengan kisah, latar belakang, dan tantangan yang unik, sehingga dari mereka saya belajar arti kesabaran, empati, ketekunan, dan pentingnya menghargai setiap proses. Dari interaksi itu, saya memahami bahwa membimbing bukan hanya soal transfer pengetahuan, melainkan juga tentang tumbuh bersama, saling menguatkan, dan menemukan makna baru dalam perjalanan akademik maupun kehidupan. Karena itu, pengalaman ini saya maknai bukan hanya sebagai proses berbagi, tetapi juga sebagai perjalanan belajar bersama.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |