Waka MA: Saya Yakin 100 Persen Perkara Seret Ketua PN Depok Sebelum Gaji Hakim Naik

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pejabat Pengadilan Negeri Depok kena ciduk KPK dalam perkara korupsi meski sudah mendapat kenaikan tunjangan hakim. 

Wakil Ketua Mahkamah Agung (MA) Bidang Yudisial Suharto yakin dugaan korupsi di perkara sengketa lahan yang menyeret pimpinan pengadilan dan juru sita terjadi sebelum tunjangan hakim diumumkan naik.  Menurutnya, dugaan korupsi yang tengah diselidiki Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu berkaitan dengan eksekusi perkara yang prosesnya terbilang panjang.

“Di proses mana ini yang sedang berjalan? Nanti Anda lihat. Saya yakin 100 persen yakin bahwa proses ini (dugaan korupsi) jauh sebelum hakim naik gaji atau naik tunjangan fasilitas keuangannya,” kata dia menjawab pertanyaan wartawan.

Dia mengatakan proses eksekusi putusan pengadilan bermula dari perkara tingkat pertama, banding, kasasi, hingga peninjauan kembali (PK). Kemudian, pihak yang dinyatakan menang mengajukan permohonan eksekusi.

Setelah itu, proses dilanjutkan dengan penelaahan berkas, diikuti dengan aanmaning atau teguran resmi dari pengadilan kepada termohon eksekusi untuk melaksanakan isi putusan yang telah berkekuatan hukum tetap secara sukarela.

“Kalau substansi persoalannya proses eksekusi, sejatinya proses eksekusi itu panjang. Hanya meledaknya lima hari setelah hakim terima gaji baru, tapi apakah betul proses eksekusi itu setelah gaji baru ini terbit atau cair?” katanya.

Namun demikian, MA menyayangkan dugaan korupsi yang menyeret hakim dan aparatur PN Depok tersebut. MA menyatakan peristiwa ini telah mencederai keluhuran harkat dan martabat hakim serta mencoreng kehormatan dan muruah institusi.

Sebagai langkah lanjutan, MA akan memberhentikan sementara mereka yang diduga terlibat, yakni Ketua PN Depok I Wayan Eka Mariarta (EKA), Wakil Ketua PN Depok Bambang Setyawan (BBG), dan Juru Sita PN Depok Yohansyah Maruanaya (YOH).

Diketahui, pemerintah resmi menaikkan tunjangan hakim lewat Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2025 yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto di Jakarta pada bulan September 2025.

Adapun KPK, Jumat (6/2), menetapkan Ketua PN Depok EKA, Wakil Ketua PN Depok BBG, dan Juru Sita PN Depok YOH sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penerimaan atau janji dalam pengurusan sengketa lahan di lingkungan PN Depok, Jawa Barat.

Kasus ini bermula dari pengajuan percepatan eksekusi pengosongan lahan. Pengajuan disampaikan anak usaha Kementerian Keuangan, PT Karabha Digdaya (KD), karena telah menang atas sengketa lahan dengan masyarakat sejak 2023.

“Sengketanya itu lahan seluas 6.500 meter persegi yang berlokasi di Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat. Putusan tersebut juga telah dilakukan banding dan kasasi, dengan putusan menguatkan putusan pertama pada PN Depok,” ucap Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu.

Read Entire Article
Politics | | | |