loading...
Sebuah kapal kargo curah berlabuh di Selat Hormuz, lepas pantai Bandar Abbas, Iran, Sabtu, 2 Mei 2026. FOTO/AP
WASHINGTON - Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran selama enam bulan terakhir diperkirakan telah menambah beban tagihan impor bahan bakar minyak (BBM) global sebesar USD330 miliar atau sekitar Rp5.859 triliun. Meski demikian, perekonomian dunia sejauh ini terhindar dari keruntuhan besar, yang sebelumnya dikhawatirkan membebani konsumen dan negara-negara berkembang.
"Sejumlah kapal tanker minyak yang berlabuh di Selat Hormuz dapat berarti berkurangnya satu kali makan dalam sehari bagi seorang anak di Sudan," ujar Pelaksana Tugas Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) Carl Skau dalam kesaksiannya pekan ini dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (30/8/2026).
Baca Juga: AS Kendalikan Cadangan Minyak Venezuela 65 Miliar Barel Senilai Rp1.775 Triliun
Konflik yang bermula dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 telah meningkatkan tekanan terhadap pasar energi global. Beban tersebut terutama dirasakan negara-negara yang bergantung pada impor bahan bakar, sementara investor dan sebagian pelaku pasar masih mampu memperoleh keuntungan dari volatilitas harga komoditas energi.
International Air Transport Association (IATA) memperkirakan harga bahan bakar pesawat rata-rata 70% lebih mahal dibandingkan 2025. Kenaikan biaya tersebut mendorong sejumlah maskapai memangkas rute dan menaikkan tarif penerbangan, sehingga tekanan harga energi turut merembet ke sektor transportasi dan konsumen.
Tekanan juga terjadi pada harga pupuk akibat gangguan ekspor dari kawasan Teluk. Berdasarkan indeks harga Bank Dunia, harga pupuk sempat mencapai 44% di atas level sebelum perang pada April, sementara WFP memperingatkan puluhan juta orang berpotensi terdorong ke kondisi kelaparan.


















































