REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Tetap menutup Selat Hormuz, menyerang negara-negara tetangga di sekitar Teluk Persia, dan menolak tuntutan Amerika Serikat agar menyerah tak lagi memperkaya uranium adalah sebagian dari sikap teguh Iran selama masa gencatan senjata. Semua itu seperti diyakini ahli geopolitik dikutip Sweden Herald, Senin (25/5/2026), adalah hasil dari kepimpinan tegas Jenderal Ahmad Vahidi, kepala Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat ini.
Sudah tiga bulan terakhir, Vahidi tak terlihat di publik dan diyakini di antara satu dari sedikit orang yang bisa berkomunikasi langsung dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Ahmad Vahidi dikenal lama sebagai tokoh sentral di lingkungan kekuasaan politik dan militer Iran dan telah menjabat baik sebagai menteri pertahanan dan menteri dalam negeri Iran.
Pada Maret 2026, Vahidi ditunjuk menjadi kepala IRGC setelah pendahulunya Jenderal Mohammad Pakpour terbunuh dalam serangan pada awal perang melawan AS-Israel. Ketika Vahidi mengambil alih kepemimpinan IRGC, seperti pernah dilaporkan New York Times (NYT), Iran mengadopsi sebuah sikap yang lebih keras dalam berkomunikasi secara tidak langsung dengan Presiden AS Donald Trump.
NYT, koran yang dikenal relatif bersahabat dengan Trump, menyebut sang jenderal sebagai "penghalang utama Trump menuju perdamaian." Menurut sebuah lembaga pemikir berbasis di Washington, ISW, Ahmad Vahidi dan orang-orang terdekatnya saat ini tidak hanya mengontrol operasi militer Iran tapi juga kebijakan negosiasi Iran.
Sebuah sumber dengan pengetahuan terkait negosiasi antara AS dan Iran kepada Associated Press mengatakan bahwa, peran Vahidi menjadi sangat besar setelah proses perundingan digelar di Pakistan pada April lalu tak menghasilkan kesepakatan apapun.
Di antara keputusan krusial Vahidi pada masa perang adalah strategi Iran terus menutup Selat Hormuz, memotong akses pasar energi fosil di Teluk Persia, yang berkontribusi pada krisis energi global yang telah dikhawatirkan dunia sejak perang pecah. Selain itu, IRGC lewat kepemimpinan Vahidi menyerang fasilitas-fasilitas minyak, hotel, dan infrastruktur negara-negara Arab yang menciptakan instabilitas di kawasan.
"Dia berpengaruh, dan dia bagian dari sebuah sistem," ujar Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group dikutip CNN, Ahad (24/5/2026).
"Keputusan-keputusan dibuat berdasarkan sebuah cara konsensus dan tidak diragukan Vahidi memiliki suara yang sangat keras dalam ruang rapat," kata Vaez, menambahkan.
Untuk menggambarkan betapa 'garis keras' latar belakang Vahidi, sejak 2007, Vahidi menjadi buruan Interpol. Ia dituduh berperan besar dalam aksi pengeboman sebuah pusat komunitas Yahudi di Argentina pada 1994 di mana 85 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.
Kemunculan Vahidi yang kemudian menjadi pengambil keputusan elite menunjukkan bahwa strategi AS dan Israel membunuhi pucuk pimpinan politik dan militer Iran dalam operasi militer tidak berbuah pada terpilihnya eselon kepemimpinan yang moderat. Menurut Danny Citrinowicz, mantan kepala intelijen militer Israel, Vahidi "sangat dominan" dan "radikal", seorang yang sangat berkomitmen pada prinsip-prinsip Revolusi Islam.
"Anda tidak bisa setuju pada sesuatu tanpa melalui persetujuan dia," kata Citrinowicz.
"Dia di antara orang-orang yang bilang 'jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, jika Trump menginginkan kembali berperang, silakan'," ujar Citrinowicz, menambahkan.
sumber : Antara, Sputnik/RIA Novosti, Anadolu

2 hours ago
5
















































