Arkeolog BRIN Balas Peneliti Prancis yang tak Percaya Lukisan Gua Tertua, 'Kritik Biasa Itu'

4 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ikut berkomentar soal penolakan arkeolog Prancis Georges Sauvet memercayai penanggalan umur lukisan gua tertua di dunia berasal dari Pulau Muna, Sulawesi.

Menurut Dr Adhi Agus Oktaviana, peneliti cum arkeolog Situs Leang Metanduno, Pulau Muna, kritik Sauvet amat wajar di dunia ilmiah, bahkan paper soal cap tangan yang menjadi lukisan gua tertua di dunia itu yang dipublikasikan di jurnal Nature 22 Januari lalu sudah memuat soal rincian metodologi yang dikritik oleh Sauvet.

"Kritik riset yang disampaikan lewat artikel di jurnal itu wajar. Biasa terjadi. Perdebatannya ilmiah," ujar Adhi Agus kepada Republika, Sabtu (30/5/2026). Ia justru memandang hal itu bagus untuk perkembangan ilmu arkeologi ke depan. "Diskusi yang baik kan memang begitu. Lewat artikel jurnal ilmiah peer review, bukan hanya opini belaka," sambung dia.

Bagaimana respons peneliti seharusnya mendapat kritikan cukup tajam terkait metodologi itu? Menurut Adhi Agus laiknya peneliti, ya harus dibuktikan atau disanggah secara empiris, dengan data dan metode yang jelas. Hal ini yang menurut Adhi Agus, sebelum dikritik oleh Sauvet pun, pihaknya sudah memaparkan dan membeberkan metodologi penanggalan lukisan gua dengan menggunakan Uranium/Thorium (U/Th).

Sebelumnya, arkeolog Prancis, Georges Sauvet, bikin heboh dunia riset dengan menolak klaim lukisan gua tertua di dunia berasal dari Indonesia. Lukisan gua yang dimaksud adalah lukisan cap tangan yang berada di Leang Metanduno, Pulau Muna, yang diperkirakan berusia 71 ribu tahun yang lalu sampai 67 ribu tahun yang lalu. Sauvet mempermasalahkan metodologi penentuan umur lukisan tersebut, yang menurutnya bias dan amat bisa salah, serta belum diuji dengan metode lain.

Hal ini Sauvet sampaikan dalam artikel ilmiah nya berjudul 'Uranium-thorium dating: the race towards the earliest rock art'. Artikel ini diterbitkan di Aplomb Publication, AOJ of Historarchaeology & Anthropological Exploration Volume 2 Issue 1 - 2026, pada 20 Mei lalu.

Sauvet menuding metode U/Th di atas mengandung bias. Bias itu bisa datang dari paling tidak dua hal, yakni model teoritis tertutup dan terbuka dalam melihat peluruhan Uranium/Thorium di dalam kalsit yang terbentuk di atas lapisan warna lukisan gua. Serta, kecenderungan peneliti di situs bersangkutan enggan menggunakan metode penanggalan lainnya, atau mencoba metode lain setelah penanggalan U/Th dilakukan.

Yang dimaksud dengan model teoritis tertutup dan terbuka adalah bagaimana peneliti mengasumsikan peluruhan Uranium/Thorium secara sempurna berada di dalam kalsit, tidak ada kebocoran isotop akibat lingkungan sekitar maupun faktor lain. Atau ada pertukaran unsur kimiawi dengan lingkungan sekitar. Sebaliknya, metode terbuka adalah kemungkinan adanya perubahan dalam kalsit tersebut akibat lingkungan terbuka di situs gua.

Sauvet berargumen, "Di sinilah letak persoalan utamanya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dalam sejumlah kasus sistem tersebut tidak sepenuhnya tertutup atau bersifat 'terbuka'. Kondisi ini terjadi ketika air yang merembes melalui lapisan kalsit menyebabkan sebagian uranium larut dan keluar dari sampel. Akibatnya, komposisi unsur di dalam kalsit berubah sehingga perhitungan usia berdasarkan rasio thorium dan uranium berpotensi menghasilkan estimasi yang tidak akurat."

Adhi Agus menilai kritik Sauvet shahih terhadap metodologi penanggalannya. Namun ia bersikeras bahwa metode LA-A-U Series closed system sejauh ini yang paling baik digunakan untuk lukisan dua di Indonesia. Laboratorium tempat di mana analisis lukisan gua ini dilakukan, GRAG Southern Cross University pun sudah kredibel, klaim Adhi Agus, karena tidak hanya menganalisis sampel lukisan gua saja tapi juga fosil dan gigi geligi dari berbagai situs terkenal lain di seluruh dunia. Hasil laboratorium fosil itu juga diterbitkan di jurnal ilmiah bergengsi.

"Kritik Pak Sauvet bisa-bisa saja," kata dia.

Menyoal argumen utama Sauvet yakni kemungkinan kebocoran air pada sampel yang bisa membuat penanggalan meleset, menurut Adhi Agus sejauh ini sudah bisa ditanggulangi. Karena pembedahan sedimen kalsit sudah amat ditel, sampai bisa memetakan pertumbuhan corraloid di atas pigmen warna lukisan gua. Ini yang menurut dia makin membuat metode penanggalan itu lebih tepat.

Read Entire Article
Politics | | | |