Umat Islam berjalan untuk melaksanakan Shalat Tarawih perdana di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi Sumatera Barat di Padang, Rabu (18/2/2026). Pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis (19/2).
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sholat Tarawih menjadi salah satu syiar paling khas di bulan Ramadhan. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa kata “Tarawih” sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti istirahat.
Praktik istirahat ini menjadi sunnah yang diikuti umat Islam hingga kini. Di Indonesia, khususnya dalam tradisi pesantren dan masjid-masjid kampung, jeda tidak hanya dilakukan setiap empat rakaat, tetapi sering kali setiap dua rakaat.
Saat jeda tersebut, bilal memimpin pembacaan sholawat dan taradhdhi yang dijawab oleh jamaah. Setelah salam, jamaah tidak langsung berdiri untuk takbir berikutnya, melainkan membaca rangkaian doa dan pujian kepada Nabi serta para sahabat.
Susunan bacaan bisa berbeda antara satu masjid dengan masjid lainnya. Namun, perbedaan tersebut tidak menjadi persoalan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Penamaan Tarawih ini merujuk pada kebiasaan Nabi Muhammad SAW ketika melaksanakan sholat malam di bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Aisyah RA disebutkan:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى اللَّيْلِ ثُمَّ يَتَرَوَّحُ فَاَطَالَ حَتَّى رَحِمْتُهُ. البيهقى
Artinya: "Adalah Rasulullah SAW shalat empat rakaat di malam hari. Kemudian beliau beristirahat/bertarawih lama sekali, sehingga aku merasa kasihan kepadanya." (HR Baihaqi juz 2, hal. 497).
Berdasarkan riwayat tersebut, setiap selesai empat rakaat, Rasulullah SAW beristirahat, meskipun pelaksanaannya tetap dua rakaat satu salam. Karena adanya jeda istirahat (tarwiyah) setiap empat rakaat inilah, seluruh rangkaian sholat malam di bulan Ramadhan kemudian dikenal dengan nama Tarawih.

2 hours ago
3















































