Laporan wartawan Republika Ahmad Syalaby Ichsan dari Aceh Tamiang
REPUBLIKA.CO.ID, ACEH TAMIANG -- Mesin Ambulance berlogo BSMI Sumut dinyalakan. Drg Wita Darmawanti sibuk membenarkan posisi mobil berukuran minibus tersebut, Selasa (24/12/2025). Relawan dari Sukabumi itu berencana ke perbatasan Aceh Timur yang berjarak sekitar 55 kilometer dari posko di Sidodadi, Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang.
“Mungkin jarak tempuhnya sekitar dua jam, “ujar Wita sambil memberikan kunci ambulance kepada Chandra Yudha Apriza yang akan menjadi sopir dalam misi kemanusiaan kali ini.
Drg Wita tidak sendiri. Empat relawan perempuan dari tanah Sunda lainnya turut menjadi tim medis dan psikososial untuk menembus desa yang sempat terisolasi itu. Dr Rizki Febrina R, dr Aisiyah Tanjung, Norma Wahyunita (apoteker), Setia Rahmani (perawat), dan Imoh Khotimah (guru).
Jalan yang dilalui tidak mudah. Ambulance harus mengambil jalur alternatif lantaran Jembatan Lubuk Sidup yang menjadi jalur penghubung Kota Kuala Simpang dengan daerah Sekerak. Jembatan tersebut masih putus sehingga belum bisa dilalui kendaraan.
Setelah masuk ke pertigaan Jalan Raya Banda Aceh-Medan dan Semadam, ambulance menyusuri jalan sepanjang perkebunan sawit. Kawanan sapi kerap melalui jalan sehingga menghambat laju ambulans. Belasan binatang ternak itu hendak menyeberang. Kawanan lainnya menyusuri jalan di sepanjang perkebunan di Pulau Tiga. Chandra yang menyupiri ambulance pun harus bersabar agar jangan sampai menabrak kawanan binatang itu.
Selain kawanan sapi, sebagian besar jalan yang dilalui masih rusak. Meski lumpur sudah relatif bersih, masih banyak lubang yang menganga sehingga mengganggu perjalanan. Kecepatan ambulance tidak bisa dipacu lebih dari 30 km/jam.
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam, ambulance akhirnya sampai di ujung Desa Batu Bejulang, desa perbatasan antara Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur. Ambulance disambut pemandangan ladang sawit yang hancur akibat ditabrak ribuan pohon tumbang. Sepatu bot mulai dikenakan. Para srikandi mulai berjalan kaki di jalur berlumpur untuk menuju posko sederhana di perbatasan.
Di posko bermodal terpal biru itu, drg Wita dan kawan-kawan sigap menghampiri warga. Mereka melayani petugas warga yang mengalami sakit setelah bencana. Ada yang mengalami batuk, demam hingga kulit gatal-gatal. Pelayanan kesehatan singkat tersebut berlangsung singkat.
Menurut penjaga posko, Muhammad Restu, Desa Batu Sumbang yang sudah berada di Kabupaten Aceh Timur belum pernah mendapatkan pelayanan kesehatan. “Disana minim akses. Bantuan cuma sampai di sekitar Babo (Desa Babo berjarak satu jam dari Batu Bejulang),”kata dia.
Jalan yang masih dipenuhi lumpur membuat para relawan harus menyewa sampan. Republika mengikuti mereka untuk menyusuri Sungai Tamiang yang meluap pada masa-masa awal bencana. Ribuan pohon yang tumbang akibat tanah longsor dan kayu gelondongan juga hanyut melalui sungai ini.
Sampan yang ditumpangi tujuh orang tersebut harus melawan arus sungai karena Desa Batu Sumbang berada di sekitar hulu. Sepanjang perjalanan, kami menyaksikan banyak perkebunan kelapa sawit yang tumbang. Sisi-sisi sungai tampak terkikis sehingga jarak antar seberang pun kian lebar. Jembatan Balangkarang yang menjadi satu-satunya jembatan gantung penghubung warga putus. Beberapa sampan warga yang berpapasan dengan kami tampak mengarah ke Desa Batu Bejulang.
Jika di jalur darat kemi berjumpa dengan kawanan sapi, maka untuk rute sungai kami berjumpa dengan kawanan buaya. “Tadi ada dua ekor,”ujar dokter kelahiran Sidempuan, Sumatera Utara tersebut.

4 weeks ago
27















































