REPUBLIKA.CO.ID, BANYUWANGI – PT Pertamina dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) pada tahun ini membangun pabrik bioetanol berkapasitas produksi 30 ribu kiloliter (KL) per tahun di kawasan Pabrik Gula Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Direktur Transformasi dan Kelanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengatakan, pabrik bioetanol tersebut diproyeksikan menghasilkan 30 ribu kiloliter bioetanol per tahun dengan bahan baku berbasis tebu.
"Ini merupakan transformasi produk sampingan gula menjadi energi bersih, dengan pabrik bioetanol terintegrasi di Banyuwangi, yang akan mendorong swasembada energi melalui perekonomian rakyat," ujar dia dalam keterangannya di Banyuwangi, Sabtu (7/2/2026).
Dengan kapasitas produksi tersebut, lanjut Agung, pabrik ini diproyeksikan mampu mengurangi impor BBM hingga 13,9 juta dolar AS atau setara Rp 233,52 miliar, serta dapat mengurangi emisi tahunan mencapai 66.000 ton CO2 ekuivalen.
"Ini akan menekan impor BBM dan menekan emisi karbon, melalui substitusi impor BBM senilai 13,9 juta dolar AS akan dicapai ketahanan energi, dan melalui pengurangan emisi karbon senilai 66 juta ton CO2 ekuivalen akan dicapai keberlanjutan lingkungan," kata Agung.
Dia menyebutkan hasil produksi pabrik bioetanol ini nantinya akan dikirimkan ke Terminal BBM Pertamina, kemudian disalurkan ke pasar sebagai BBM melalui SPBU Pertamina.
Sebelum memasuki tahapan itu, kata Agung, Pertamina melalui 177 SPBU miliknya di Pulau Jawa telah menyalurkan produk BBM Pertamax Green 95 yang memiliki kandungan etanol 5 persen.
"Melalui pabrik bioetanol di Banyuwangi ini nantinya akan diperluas wilayah implementasinya dan ditingkatkan kandungan etanolnya, sehingga akan seiring dengan negara-negara besar di dunia yang menggunakan etanol sebagai bahan bakar bersih," ujar dia.
Sementara itu, Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Mahmudi memastikan ketersediaan bahan baku sangat mencukupi.
"Dari sisi feed-stock aman, kurang lebih untuk 100 KLP kan butuh sekitar 120 ribu ton dalam setahunnya, kebetulan produksi molase dari PT SGN secara total hampir 700 ribu ton, saya kira cukup, nanti juga didukung dari 5 pabrik gula yang ada di sekitar," katanya.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menambahkan pabrik bioetanol di lahan seluas 10 hektare ini merupakan bagian dari fase pertama program hilirisasi yang dijalankan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia.
"Bioetanol merupakan energi bersih yang lebih ramah lingkungan, dan pabrik ini akan berkontribusi pada pasokan energi bersih nasional," katanya.
Selain itu, kata Ipuk, keberadaan pabrik ini akan memaksimalkan serapan tebu petani, khususnya di kabupaten ujung timur Pulau Jawa tersebut.
"Tebu petani Banyuwangi dan daerah sekitar juga akan kian terserap maksimal, karena selain untuk kebutuhan produksi gula, juga untuk bahan baku bioetanol," ujarnya.
Pembangunan pabrik bioetanol akan mulai dilakukan pada Juni mendatang dengan perkiraan masa pengerjaan selama 24 bulan.
sumber : Antara

2 hours ago
2















































