Banjir Rendam 1.842 Hektare Sawah di Grobogan Jateng

6 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, GROBOGAN -- Areal persawahan seluas 1.842 hektare di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), terdampak banjir. Pemprov Jateng mendorong para petani yang sawahnya terimbas banjir agar segera melapor untuk keperluan pengajuan klaim ke PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo).

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jateng, Defransisco Dasilva Tavares atau Frans, mengungkapkan, sawah terdampak banjir di Grobogan seluas 1.842 hektare merupakan data sementara. Dia mengatakan, pihaknya bakal melakukan verifikasi lanjutan.

"Petugas pengendali organisme pengganggu tanaman atau POPT nanti cek di lapangan bahwa ini puso apa tidak. Karena kalau dalam kondisi terendam kan agak sulit untuk mendeteksi," kata Frans seusai mendampingi Gubernur Jateng Ahmad Luthfi meninjau banjir di Kabupaten Grobogan, Selasa (17/2/2026).

Jika hasil pengecekan menyatakan terjadi gagal panen, laporan akan diteruskan kepada PT Jasindo sebagai penanggung jawab program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Terkait mekanisme pengajuan klaim, batas waktu pelaporan sesuai ketentuan adalah satu pekan. Karena itu, petani yang sawahnya terdampak banjir diharapkan segera melapor.

“Paling tidak seketika kejadian sudah difoto, lapor dulu secara SMS, WA, dan sebagainya. Kemudian baru petugas turun untuk mengecek lapangan kebenarannya," kata Frans. 

Dia mengakui belum seluruh petani terdaftar dalam program AUTP. Dengan demikian, tidak semua dilindungi asuransi. Frans mendorong petani, terutama di wilayah yang berpotensi terdampak bencana, agar segera mendaftarkan lahannya melalui penyuluh pertanian.

“Kita dorong masyarakat dengan kondisi daerah-daerah yang mungkin berpotensi untuk terjadinya bencana itu, untuk mendaftarkan diri. Karena kalau tidak itu kan tidak ter-cover," ujar Frans. 

Sebanyak 42 desa di 10 kecamatan di Kabupaten Grobogan dilanda banjir. Kepala Pelaksana BPBD Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto, mengatakan, sepuluh kecamatan terdampak banjir di wilayahnya yakni Kedungjati, Tegowanu, Gubug, Purwodadi, Karangrayung, Geyer, Toroh, Pulokulon, Penawangan, dan Godong. Menurut Wahyu, ketinggian banjir di masing-masing bervariasi antara 20-60 sentimeter. 

"Banjir diakibatkan curah hujan tinggi pada tanggal 15 Februari 2026 pukul 21:00 WIB sampai 16 Februari 2026 pukul 05:00 WIB di wilayah Grobogan dan kiriman air dari hulu Sungai Glugu, Sungai Jajar, dan Sungai Tuntang yang mengakibatkan sungai tidak mampu menampung debit air sehingga menyebabkan air meluap dan menyebabkan banjir di beberapa wilayah di Kabupaten Grobogan," kata Wahyu, Selasa (17/2/2026). 

Dia menambahkan, hujan lebat dan tingginya debit air turut menyebabkan beberapa tanggul di Sungai Cabean, Jajar, Jratun, dan Tuntang, jebol. Luapan air juga membanjiri permukiman warga dan areal persawahan. 

Menurut Wahyu, saat ini banjir di sebagian besar wilayah terdampak telah surut. Namun BPBD Grobogan masih membantu proses evakuasi warga di desa-desa terimbas, termasuk terlibat penanganan tanggul sungai jebol.

Read Entire Article
Politics | | | |