Bapanas: Pelemahan Rupiah Belum Pengaruhi Harga Pangan Impor

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga saat ini belum memengaruhi harga komoditas pangan impor di dalam negeri. Harga sejumlah komoditas yang masih bergantung pada pasokan luar negeri disebut masih berada dalam kisaran yang ditetapkan pemerintah.

Republika.co.id mengonfirmasi kondisi tersebut kepada Bapanas di tengah kekhawatiran bahwa tekanan nilai tukar dapat mendorong kenaikan harga pangan, terutama untuk komoditas yang sebagian besar kebutuhan nasionalnya dipenuhi melalui impor.

"Sampai dengan saat ini semua komoditas impor harganya masih normal sesuai HAP yang ditetapkan pemerintah," kata Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy melalui pesan singkat, Jumat (5/6/2026).

Sejumlah komoditas pangan masih bergantung pada impor. Salah satunya bawang putih yang sekitar 90 persen kebutuhannya dipenuhi dari luar negeri. Komoditas ini tidak memiliki Harga Acuan Penjualan (HAP) absolut sebagaimana beberapa komoditas pangan strategis lainnya.

Komoditas berikutnya adalah kedelai yang menjadi bahan baku utama industri tahu dan tempe nasional. Sekitar 70 hingga 80 persen kebutuhan kedelai masih dipenuhi melalui impor. HAP konsumen untuk komoditas ini ditetapkan sebesar Rp 12.000 per kilogram (kg).

Pemerintah juga masih mengimpor gula konsumsi untuk menutupi defisit produksi tebu domestik. HAP konsumen gula konsumsi ditetapkan sebesar Rp 15.500 per kg. Khusus wilayah Maluku, Papua, dan daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP), HAP konsumen mencapai Rp 16.500 per kg.

Komoditas lain yang masih bergantung pada impor adalah daging kerbau beku. Kebutuhan nasional untuk komoditas ini seluruhnya dipenuhi melalui impor dengan HAP konsumen sebesar Rp 80.000 per kg. Sejumlah komoditas lainnya yang juga masih mengandalkan pasokan luar negeri antara lain daging sapi segar maupun beku, gandum, serta beras khusus.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso juga menyebut pelemahan rupiah hingga kini belum berdampak pada harga bahan pokok di dalam negeri. Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus memantau perkembangan harga melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).

"Belum, coba dicek di SP2KP, harganya stabil," kata Budi kepada wartawan di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Menurut Budi, pasokan bahan pokok nasional masih terjaga sehingga gejolak nilai tukar belum memicu kenaikan harga pangan di pasar. Pemerintah terus mengawasi pergerakan harga dan distribusi guna memastikan ketersediaan barang tetap aman.

Ia mengakui pelemahan rupiah berpotensi memengaruhi harga sejumlah barang yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor. Suku cadang kendaraan, oli, dan ban menjadi beberapa komoditas yang berpotensi mengalami kenaikan harga akibat tekanan kurs.

"Ya, karena memang kondisinya lagi seperti ini," ujarnya.

Read Entire Article
Politics | | | |