Begini Cara Iran Bikin Rudal Canggih Meski Tiga Dekade Disanksi AS

8 hours ago 8

Seorang warga Iran berjalan melewati spanduk anti-Israel yang memuat gambar rudal Iran, di Teheran, Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Republik Islam Iran mampu terus mengembangkan misil-misil canggih meski bertahun-tahun disanksi AS dan sekutu Baratnya. Apa rahasianya?

Sanksi AS terhadap Iran dimulai ketika Revolusi Islam menggulingkan pimpinan boneka AS dan Inggris, Shah Reza Pahlevi pada 1979. Saat itu, Iran telah menerima pengiriman 79 pesawat tempur F-14 hasil kesepakatan dengan rezim sebelumnya. 

Keberadaan F-14 itu berperan krusial terhadap kemampuan Iran mengembangkan persenjataan mereka. Kala itu, hanya Iran satu-satunya negara asing yang memiliki F-14. 

Pesawat tempur ini merupakan mimpi buruk dalam perawatannya, karena mesin TF30-nya, yang awalnya dirancang untuk pembom F-111 Aardvark dan bukan untuk pesawat tempur, tidak dapat diandalkan dalam lingkungan pertempuran udara intensitas tinggi. Perkiraan menunjukkan bahwa pesawat tempur tersebut membutuhkan 40 jam kerja darat untuk setiap jam penerbangan. 

Dengan kata lain, ini adalah platform tempur yang tidak dapat bertahan tanpa dukungan teknis yang berkelanjutan. Namun upaya Iran membalikkan semua perkiraan. Pada 1982, Republik Islam mendeklarasikan apa yang disebutnya sebagai "jihad swasembada", dan produksi komponen dasar pesawat terbang dalam negeri segera dimulai. 

Sistem yang kompleks, seperti avionik, hidrolik, dan komputer kontrol penerbangan, direkayasa ulang oleh para insinyur Iran menggunakan komponen yang diselamatkan dari rongsokan F-14. Pembongkaran secara selektif—membongkar bangunan-bangunan yang tidak dapat diterbangi untuk melestarikan bangunan-bangunan lain—menjadi praktik standar di Iran, dan ketika produksi dalam negeri menurun, muncullah pasar paralel: pasar gelap.

Selama tiga dekade, Amerika Serikat menyaksikan Iran berusaha untuk menjaga jet tempur Amerika tetap beroperasi, meskipun ada sanksi yang komprehensif, embargo senjata, dan penghentian teknologi sepenuhnya. Setiap kali satu rantai pasokan ditutup, rantai pasokan lainnya muncul. Setiap kali Iran tidak mendapatkan suku cadang penting, para insinyurnya menggunakannya kembali. 

Kerja keras menjaga F-14 bisa beroperasi itu yang kemudian membuat Iran lihai mencari cara mengembangkan alat tempur mereka di tengah sanksi selama tiga dekade dari Barat.

Pengembangan misil...

Read Entire Article
Politics | | | |