REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara Persero Tbk (BBTN) atau BTN telah menyiapkan sejumlah aksi korporasi untuk tahun 2026, di antaranya mendirikan anak usaha di sektor asuransi umum dan anak usaha di sektor pembiayaan (multifinance).
Direktur Utama BTN Nixon L. P. Napitupulu mengungkapkan perseroan berencana mendirikan anak usaha di sektor asuransi umum dengan kebutuhan modal senilai Rp 250 miliar yang ditargetkan terealisasi pada semester II 2026.
"Perseroan juga berencana mendirikan anak usaha di sektor multifinance dengan nilai investasi sekitar Rp3–5 triliun, dengan target dapat terealisasi pada semester II 2026," ujarnya dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin.
"Kemudian kita usulkan ada penambahan kapital 1 di perusahaan asuransi dan pendirian anak usaha perusahaan pembiayaan syariah dan seterusnya,” jelas Nixon.
Selain mendirikan anak usaha, Nixon menjelaskan BTN juga berencana memperkuat permodalan dengan nilai mencapai Rp 2 triliun yang rencananya direalisasikan pada semester II 2026.
"Kemudian ada beberapa aksi korporasi yang akan kami lakukan di tahun 2026, yaitu penerbitan virtual capital lagi Rp2 triliun, dan ini kita harapkan juga dibeli Danantara," ujar Nixon.
Selain itu, perseroan akan melakukan penerbitan obligasi (bonds) atau wholesale funding dengan nilai mencapai Rp 4 triliun yang dilaksanakan secara bertahap pada semester I hingga semester II 2026.
"Kemudian ada Bonds Rp4 triliun atau Wholesale Funding,” ujar Nixon.
Dari sisi kinerja keuangan, BTN menargetkan pertumbuhan laba bersih (net profit growth) di kisaran 20–22 persen pada 2026. Penyaluran kredit ditargetkan tumbuh 8–9 persen (year on year/yoy) dengan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) berada di bawah 3 persen.
Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (deposit) ditargetkan sebesar 7–8 persen pada 2025, dengan biaya dana (cost of fund) berada di level 3,6 persen, serta beban kredit di kisaran 1–1,2 persen.
“Kami merencanakan sampai tahun depan, loan growth mungkin masih 8-9 persen, tapi ini OJK terus terang minta dinaikkan, karena 12 (persen) tahun lalu. Kemudian, net profit kita masih berani tulis 20-22 persen, karena memang masalah-masalah kredit masa lalunya sudah selesai. Jadi sudah bersih,” ujar Nixon.
sumber : Antara

1 hour ago
2












































