Cara Jakarta Buka Jalan bagi Warganya Masuk Dunia Kerja

5 days ago 16

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Apni Nelya (37 tahun) datang ke Career Fest di GOR Ciracas dengan harapan menemukan perusahaan yang bersedia memberinya kesempatan kerja. Perempuan yang akrab dipanggil Evi ini datang dari Pulo Gebang, Jakarta Timur, tidak begitu jauh dari penyelenggaraan acara.

Evi mengetahui informasi bursa kerja pada 28-29 Juli 2026 tersebut setelah rutin menanyakan lowongan kepada Suku Dinas Tenaga Kerja melalui Kantor Wali Kota Jakarta Timur.

Bagi Evi, Career Fest sangat bermanfaat. Ia tidak perlu mendatangi kantor perusahaan satu per satu atau hanya mengandalkan informasi dari lingkungan terdekat.

“Kebetulan ada informasi bursa kerja, ya sudah kita datang. Mudah-mudahan salah satunya ada rezeki kami di sini,” ucapnya.

Namun, bagi Evi yang memiliki riwayat autoimun dan merupakan penyandang disabilitas, kesempatan itu masih belum sepenuhnya terbuka. Ia menilai pilihan lowongan bagi penyandang disabilitas masih lebih sedikit dibandingkan pelamar pada umumnya.

Karena itu, ia berharap bursa kerja berikutnya melibatkan lebih banyak perusahaan yang menyediakan posisi ramah disabilitas. Kesempatan kerja, menurutnya, harus diberikan tanpa perlakuan yang membedakan.

“Mudah-mudahan lapangan pekerjaan lebih banyak lagi, khususnya untuk disabilitas. Untuk perusahaan, mohon para penyandang disabilitas diterima dengan baik tanpa ada intimidasi atau perlakuan yang membedakan,” ujarnya.

Harapan berbeda datang dari Tyas Ananda (19 tahun). Perempuan asal Ciracas, Jakarta Timur, itu masih berstatus fresh graduate dari sekolah menengah atas dan belum memiliki pengalaman kerja.

Tyas mengaku terbantu oleh bursa kerja yang digelar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena jaringan yang dimilikinya untuk mencari pekerjaan masih terbatas. Ia dapat melihat berbagai lowongan sekaligus mengenali jenis keterampilan yang dibutuhkan perusahaan.

Meski demikian, Tyas menilai lulusan baru membutuhkan pendampingan yang lebih spesifik. Pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan lulusan SMA dan SMK dinilai dapat membantu mereka menghadapi persaingan kerja.

“Saya sempat ikut juga. Tapi, menurut saya dibuat juga pelatihan kerja khusus fresh graduate SMA/SMK saja, biar lebih fokus,” kata Tyas.

Pengalaman Evi dan Tyas menunjukkan persoalan ketenagakerjaan Jakarta tidak hanya berkaitan dengan jumlah lowongan. Pencari kerja juga membutuhkan informasi yang mudah dijangkau, keterampilan yang sesuai, pengalaman, serta kesempatan yang terbuka bagi berbagai kelompok.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencoba menjembatani kebutuhan tersebut melalui bursa kerja, pelatihan, pemagangan lulusan sekolah menengah, serta penempatan tenaga kerja ke luar negeri.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan bursa kerja akan terus digelar untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan, termasuk menyediakan kesempatan bagi penyandang disabilitas.

“Job fair itu tetap kami selenggarakan, baik yang bersifat umum maupun khusus untuk disabilitas,” kata Pramono.

Genjot Bursa Kerja

Sepanjang 2026, Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi DKI Jakarta menargetkan 13 kegiatan bursa kerja. Hingga triwulan II, lima kegiatan telah diselenggarakan dengan melibatkan 149 perusahaan.

Sebanyak 734 jenis jabatan ditawarkan dengan total kuota 15.550 lowongan. Kegiatan tersebut didatangi 8.999 pencari kerja dan menghasilkan 12.874 lamaran.

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi DKI Jakarta Syaripudin mengatakan angka itu belum dapat langsung disamakan dengan jumlah warga yang diterima bekerja. Seleksi masih berlangsung melalui Portal Karir Jakarta maupun tahapan lanjutan yang dilakukan masing-masing perusahaan.

“Proses seleksi dilakukan secara bertahap, baik melalui Portal Karir Jakarta maupun tahapan rekrutmen lanjutan setelah pelaksanaan job fair,” kata Syaripudin.

Bursa kerja juga digelar di tingkat kecamatan agar lebih dekat dengan masyarakat. Salah satunya Career Fest Jakarta Timur di GOR Ciracas.

Kegiatan tersebut menghadirkan 37 perusahaan dengan lebih dari 2.000 lowongan, termasuk kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas. Pada hari pertama, sebanyak 3.190 pencari kerja tercatat mendaftar secara daring.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Jakarta Timur Fauzi mengatakan Career Fest tidak hanya menjadi tempat bertemunya perusahaan dan pelamar. Kegiatan itu juga diarahkan untuk mempertemukan kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan industri.

“Sasaran Career Fest ini adalah masyarakat pencari kerja, mahasiswa, pelajar atau lulusan SMK, universitas, serta penyandang disabilitas yang membutuhkan lowongan kerja,” kata Fauzi.

Kehadiran pusat pelatihan kerja dalam kegiatan tersebut menjadi penting. Pencari kerja yang belum memenuhi kualifikasi dapat mengetahui keterampilan apa yang perlu dikuasai sebelum kembali melamar.

Menjembatani Lulusan dengan Industri

Bagi lulusan SMA dan sederajat, hambatan yang sering muncul adalah persyaratan pengalaman kerja. Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, Pemprov DKI menjalankan program pemagangan dalam negeri.

Hingga triwulan II 2026, program itu telah diikuti 1.000 lulusan SMA dan sederajat dengan melibatkan 107 perusahaan.

Program pemagangan berlangsung selama enam bulan. Peserta memperoleh pengalaman kerja langsung, pendampingan mentor, uang saku Rp2,5 juta per bulan, perlindungan BPJS Ketenagakerjaan, serta sertifikat pemagangan.

Ketika dimulai pada 4 Mei 2026, sebanyak 1.000 peserta terpilih dari sekitar 10 ribu pendaftar. Pada tahap awal, program melibatkan 67 perusahaan dari sektor manufaktur, ritel, perhotelan, makanan dan minuman, serta jasa lainnya. Jumlah perusahaan kemudian bertambah selama program berjalan.

Pemagangan memang tidak otomatis membuat seluruh peserta menjadi pegawai tetap. Namun, perusahaan memiliki kesempatan menilai kemampuan peserta secara langsung dan dapat merekrut mereka setelah program selesai.

Bagi peserta, pengalaman tersebut menjadi bekal untuk memahami ritme kerja, kedisiplinan, komunikasi, serta tanggung jawab di lingkungan profesional. Hal-hal itu kerap sulit diperoleh hanya melalui pendidikan di kelas.

Selain pemagangan, Pemprov DKI menjalankan pelatihan reguler yang hingga triwulan II telah diikuti 630 peserta. Program Mobile Training Unit (MTU) atau pelatihan kerja keliling juga telah menjangkau 2.731 orang.

MTU membawa instruktur dan peralatan pelatihan lebih dekat ke permukiman. Model tersebut membuka akses bagi warga yang terkendala jarak, biaya transportasi, atau tanggung jawab keluarga.

Bidang pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan wilayah dan pasar kerja, antara lain tata boga, tata busana, komputer, desain grafis, otomotif, teknik pendingin, dan keterampilan jasa lainnya.

Bursa kerja, pemagangan, dan pelatihan memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling berkaitan. Bursa kerja membuka akses terhadap informasi lowongan. Pelatihan memperkuat kompetensi, sedangkan pemagangan memberikan pengalaman pertama yang sering diminta perusahaan.

Perbaikan kondisi ketenagakerjaan mulai terlihat dalam data Badan Pusat Statistik. Pada Februari 2026, jumlah angkatan kerja Jakarta mencapai 5,53 juta orang, bertambah 57,64 ribu dibandingkan Februari 2025.

Read Entire Article
Politics | | | |