Curah Hujan Tinggi Tekan Produksi, PTPN IV PalmCo Jaga Kinerja Kopi Tetap Positif

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Anomali iklim dengan curah hujan tinggi pada awal 2026 memaksa PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo menyesuaikan ritme produksi kopi. Meski menghadapi tekanan di sisi hulu, perusahaan tetap mampu menjaga kinerja keuangan melalui strategi menjaga mutu dan kualitas hasil panen.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan peningkatan curah hujan berdampak langsung terhadap proses budidaya, terutama dalam pematangan buah kopi. Karena itu, perusahaan memilih menunda panen raya demi memastikan kualitas biji tetap terjaga.

“Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi kinerja keuangan segmen kopi untuk tetap mencatatkan hasil positif,” ujar Jatmiko dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Pada triwulan I 2026, PTPN IV mencatat laba sebelum pajak dari komoditas kopi sebesar Rp3,43 miliar. Capaian ini ditopang oleh lonjakan penjualan yang signifikan di awal tahun, di tengah keputusan manajemen untuk menggeser jadwal panen raya.

Data perusahaan menunjukkan penjualan bersih kopi meningkat hampir dua kali lipat secara tahunan, dari Rp10,94 miliar pada triwulan I 2025 menjadi Rp21,78 miliar pada periode yang sama tahun ini. Meski demikian, EBITDA tercatat sedikit menurun menjadi Rp3,70 miliar dari Rp3,82 miliar pada tahun sebelumnya.

Di sisi hulu, tantangan utama berasal dari berkurangnya intensitas penyinaran matahari akibat tingginya curah hujan. Kondisi ini memperlambat proses fotosintesis dan pematangan buah kopi, sehingga cherry berkembang lebih lambat di sejumlah wilayah operasional.

Di kawasan Java Coffee Estate (JCE) di lereng Dataran Ijen, Jawa Timur, curah hujan tercatat mencapai 120 milimeter dengan 21 hari hujan sepanjang triwulan pertama. Sementara di Jambi, curah hujan mencapai 57 milimeter dengan 10 hari hujan.

Manajer KSO Java Coffee Estate, Hastudy Yunarko, menegaskan bahwa panen tidak dapat dipaksakan saat buah belum matang sempurna. “Jika dipaksakan, kualitas seduhan kopi akan turun dan berisiko terhadap standar mutu produk,” ujarnya.

Karena itu, manajemen memutuskan menggeser panen raya ke Mei 2026, menyesuaikan dengan tingkat kematangan alami buah kopi. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga daya saing produk di pasar, sekaligus memastikan kualitas tetap terjaga.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |