Defisit APBN Januari 2026 Capai Rp54,6 Triliun

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Defisit APBN mencapai Rp54,6 triliun hingga akhir Januari 2026 atau setara 0,21 persen dari produk domestik bruto. Defisit terjadi karena realisasi belanja negara tumbuh lebih cepat dibandingkan pendapatan negara.

Kementerian Keuangan mencatat, pendapatan negara mencapai Rp172,7 triliun atau naik 9,5 persen secara tahunan. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp227,3 triliun atau tumbuh 25,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, defisit tersebut masih sesuai dengan rencana APBN. “Defisit APBN masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026,” kata Purbaya Yudhi Sadewa, dalam taklimat media APBN KiTa Edisi Februari 2026 di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Purbaya menjelaskan, percepatan belanja dilakukan untuk mendukung program prioritas pemerintah dan menjaga momentum ekonomi. “Realisasi belanja negara sebesar Rp227,3 triliun atau 5,9 persen dari pagu APBN menunjukkan akselerasi belanja pemerintah sejak awal tahun untuk mendorong berbagai program prioritas, terutama dalam menjaga daya beli dan mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I,” ujar Purbaya.

Penerimaan perpajakan tetap menjadi kontributor utama pendapatan negara, yakni Rp138,9 triliun. Penerimaan pajak mencapai Rp116,2 triliun atau tumbuh 30,7 persen, sedangkan bea dan cukai turun 14 persen menjadi Rp6,7 triliun, serta penerimaan negara bukan pajak tercatat Rp33,9 triliun.

“Pertumbuhan pajak pada Januari mencapai 30,7 persen dibandingkan tahun lalu. Ini menandakan adanya perbaikan ekonomi dan peningkatan efisiensi pengumpulan pajak di Direktorat Jenderal Pajak. Saya harap ke depan tren ini dapat berlanjut,” kata Purbaya.

Belanja pemerintah pusat tercatat Rp131,9 triliun dan transfer ke daerah Rp95,3 triliun. Defisit keseimbangan primer tercatat Rp4,2 triliun, sementara pemerintah memastikan pembiayaan dilakukan secara terukur untuk menjaga stabilitas fiskal.

“Secara keseluruhan, APBN 2026 tetap berfungsi optimal sebagai shock absorber dan motor penggerak ekonomi, dengan pendapatan yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi, serta defisit yang tetap terkendali. Kami optimistis APBN mampu menjaga stabilitas dan mendukung momentum pemulihan ekonomi nasional,” ujar Purbaya.

Read Entire Article
Politics | | | |