Defisit Fiskal 2,9 Persen Masih dalam Batas Wajar

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist sekaligus ASEAN Economist HSBC Pranjul Bhandari menilai defisit fiskal Indonesia yang mencapai 2,9 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2025 belum perlu direspons secara berlebihan. Penilaian itu disampaikan meski angka tersebut mendekati batas psikologis 3 persen yang selama ini dijaga pemerintah.

“Jadi, meningkatnya perhatian investor terhadap fiskal Indonesia dipicu oleh realisasi defisit yang lebih tinggi dari rencana awal. Angka defisit fiskal 2025 tercatat sebesar 2,9 persen dari PDB,” ujar Pranjul dalam HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026 yang digelar secara daring, Senin (12/1/2026).

Ia menjelaskan defisit tersebut mengalami kenaikan bertahap dari rencana awal pemerintah. Awalnya defisit dipatok di kisaran 2,5 persen, kemudian dinaikkan menjadi 2,7 persen, sebelum akhirnya mencapai 2,9 persen.

“Angka ini lebih tinggi dari rencana awal yang dimulai dari 2,5 persen, kemudian dinaikkan menjadi 2,7 persen, dan akhirnya berakhir di 2,9 persen,” katanya.

Menurut Pranjul, kenaikan defisit fiskal pada 2025 terutama dipicu pertumbuhan PDB nominal yang lemah, sehingga penerimaan pajak tidak optimal. Di sisi lain, belanja pemerintah justru meningkat seiring peluncuran berbagai program perlindungan sosial.

“Kombinasi penerimaan yang rendah dan belanja yang meningkat inilah yang mendorong defisit fiskal naik,” ujarnya.

Meski demikian, Pranjul menilai kondisi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan risiko struktural jangka panjang. Ia memperkirakan situasi fiskal pada 2026 berpeluang membaik seiring perbaikan pertumbuhan PDB nominal. “Tahun 2026, situasinya bisa berbeda,” katanya.

Terkait program perlindungan sosial, termasuk program makan gratis, Pranjul menilai implementasi di lapangan biasanya tidak secepat dan sebesar target awal yang diumumkan pemerintah.

“Dalam praktiknya, implementasi sering berjalan lebih lambat dan cakupannya menjadi lebih terbatas,” ujarnya.

Karena itu, menurut dia, masih terlalu dini untuk menyimpulkan defisit fiskal Indonesia akan menembus batas 3 persen pada 2026. Pranjul menegaskan pemerintah hingga kini tetap menyampaikan komitmen menjaga defisit fiskal.

“Saya juga mengikuti pernyataan Menteri Keuangan, dan sejauh ini pemerintah masih berkomitmen untuk menjaga defisit di bawah 3 persen,” katanya.

“Untuk saat ini, saya akan berpegang pada komitmen tersebut,” ujar Pranjul.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |