REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada kalimat-kalimat yang pendek di lisan, tetapi berat di timbangan langit. Seperti dua sayap kecil yang mengangkat jiwa terbang tinggi. Di antara dzikir itu adalah sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan dalam hadis sahih oleh Al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
Subḥānallāhi wa biḥamdihī, subḥānallāhil-‘aẓīm.
“Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung.”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman…” lalu beliau menyebut dzikir ini. Begitulah ia lahir ke tengah umat, bukan dari renungan seorang sufi di sudut sunyi, melainkan dari lisan kenabian yang terjaga. Ia turun sebagai hadiah: sederhana, tetapi bernilai tak terhingga.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa siapa yang membaca “Subḥānallāhi wa biḥamdihī” seratus kali dalam sehari, diampuni dosanya meski sebanyak buih di lautan. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Dari majelis Nabi di Madinah, kalimat ini dihafal para sahabat, lalu diajarkan kepada tabi‘in, ditulis oleh para muhaddits, dan disalin dalam kitab-kitab hadis yang kita baca hari ini. Dari lisan ke lisan, dari hati ke hati, ia menempuh perjalanan berabad-abad hingga sampai di bibir kita. Betapa panjang rantai cinta itu.
Secara makna, Subḥānallāh adalah pensucian total, menafikan segala kekurangan dari Allah. Ia seperti menyapu bersih bayangan-bayangan keliru tentang Tuhan dalam benak kita. Sedangkan wa biḥamdihī adalah pengakuan bahwa segala puji kembali kepada-Nya. Para ulama menjelaskan bahwa tasbih dan tahmid dalam satu rangkaian adalah kesempurnaan adab: menafikan kekurangan dan menetapkan kesempurnaan.
Lalu diulang lagi: Subḥānallāhil-‘aẓīm, Maha Suci Allah Yang Maha Agung. Seakan jiwa belum puas memuji, maka ia mengulang dengan sifat keagungan. Dalam tradisi tasawuf, pengulangan ini bukan sekadar repetisi, melainkan pendalaman. Seperti ombak yang kembali ke pantai, setiap ulangan membawa kesadaran yang lebih dalam tentang kebesaran-Nya.
Bagaimana Nabi ﷺ mengamalkannya? Beliau adalah orang yang paling banyak berdzikir dalam setiap keadaan, berjalan, duduk, bahkan menjelang wafatnya lisan beliau tetap basah dengan tasbih dan istighfar. Para sahabat meriwayatkan bahwa beliau sering mengucapkan dzikir-dzikir tasbih dalam keseharian. Tidak ada waktu khusus yang membatasi; ia menjadi nafas ruhani yang mengiringi hidupnya.
Dalam karya-karya adzkar seperti Al-Adzkar oleh An-Nawawi dan penjelasan-penjelasan ruhani dalam Al-Wabil ash-Shayyib karya Ibn Qayyim al-Jawziyyah, tasbih ini disebut sebagai dzikir agung yang membersihkan hati. Ibn Qayyim menjelaskan bahwa tasbih adalah bentuk tanzih, menyucikan Allah dari segala yang tidak layak bagi-Nya, dan ketika hati konsisten melakukannya, ia pun ikut tersucikan dari kotoran dunia.

3 hours ago
6














































