Sahabat Misterius yang Dicari Umar, Disebut Nabi, Plus Dicintai Langit

3 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di padang pasir Yaman, jauh dari riuh Madinah, hidup seorang lelaki yang namanya tak pernah tercatat dalam barisan sahabat yang duduk di majelis Nabi.

Ia tak pernah berjabat tangan dengan Rasulullah ﷺ, tak pernah memandang wajah beliau secara langsung. Namun namanya melintasi jarak dan zaman, disebut oleh lisan kenabian dengan penuh kemuliaan. Dialah Uwais al-Qarni, seorang alim yang kemasyhurannya lahir dari sunyi.

Uwais berasal dari kabilah Murad, dari negeri Yaman. Ia hidup sederhana, nyaris tak dikenal manusia. Tubuhnya pernah terserang penyakit kulit hingga meninggalkan bekas putih, kecuali seukuran dirham. Tetapi di balik kesederhanaan dan keterasingannya, tersembunyi hati yang bening dan bakti yang tak terukur kepada ibunya.

Ia memilih tinggal di Yaman demi merawat sang ibu yang renta dan sakit-sakitan. Ketika kabar tentang kerasulan Muhammad ﷺ sampai kepadanya, ia beriman tanpa ragu. Rindu untuk berjumpa Nabi membuncah dalam dadanya. Namun setiap kali kesempatan datang, ibunya membutuhkan dirinya. Ia lebih memilih surga yang terhampar di telapak kaki ibunya daripada perjalanan panjang menuju Madinah.

Kisahnya sampai kepada kita melalui hadis sahih yang diriwayatkan oleh Muslim ibn al-Hajjaj dalam Sahih Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabatnya bahwa kelak akan datang kepada mereka seorang lelaki dari Yaman bernama Uwais al-Qarni. Ia berbakti kepada ibunya. Jika ia bersumpah atas nama Allah, Allah akan mengabulkannya. Nabi bahkan berpesan kepada Umar ibn al-Khattab dan Ali ibn Abi Talib: jika mereka bertemu dengannya, mintalah ia mendoakan kalian.

Betapa menggetarkan: seorang yang tak pernah bertemu Nabi, justru disebut dan dimuliakan oleh Nabi. Di sini, ukuran kemuliaan bergeser. Bukan jarak fisik yang menentukan kedekatan, melainkan kebeningan hati dan bakti yang tulus. Uwais bukan sahabat dalam arti teknis karena tak pernah berjumpa Nabi, tetapi ruhnya bersua dalam keikhlasan.

Ketika akhirnya Umar bertemu Uwais dalam musim haji, khalifah yang disegani itu justru meminta doa dari lelaki sederhana itu. Uwais menangis dan meminta agar dirinya tidak dikenal manusia. Ia lebih suka tersembunyi di antara debu-debu bumi daripada dielu-elukan. Dalam tradisi tasawuf, Uwais menjadi simbol wilayah al-khafā’, kewalian yang tersembunyi. Para arif menyebut jalan sunyinya sebagai “jalan Uwaisi”: kedekatan ruhani yang melampaui jarak lahiriah.

Read Entire Article
Politics | | | |