REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Literasi gizi keluarga dinilai masih menjadi pekerjaan rumah dalam mendukung tumbuh kembang anak usia dini. Dalam sebuah forum diskusi beberapa waktu lalu, para pakar menekankan pentingnya pemenuhan gizi lengkap dan seimbang pada anak usia 1–5 tahun, bertepatan dengan momentum Hari Gizi Nasional 2026.
Dalam forum tersebut, dokter spesialis gizi klinik, dr Juwalita Surapsari, M Gizi, Sp GK, menyampaikan pemenuhan gizi anak tidak sebatas memastikan anak merasa kenyang. Menurut dia, dikutip dari siaran pers, Sabtu (21/2/2026), keseimbangan antara zat gizi makro seperti karbohidrat dan protein, serta zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral, harus menjadi perhatian utama orang tua.
“Orang tua memiliki andil besar dalam menentukan apa yang akan dimakan anak, kapan anak makan, dan bagaimana anak makan. Namun, anak yang menentukan seberapa banyak ia makan. Karena itu, dalam proses pemberian makan tidak boleh ada unsur pemaksaan,” ujar dr Juwalita.
Ia menjelaskan, periode usia 1–5 tahun merupakan masa emas pertumbuhan. Pada fase ini, kebutuhan nutrien meningkat pesat untuk menunjang pertumbuhan fisik sekaligus perkembangan kognitif. Beberapa mikronutrien penting yang perlu dipenuhi antara lain zat besi, vitamin A, vitamin D, zinc, serta DHA yang berperan dalam perkembangan otak.
Selain asupan gizi, stimulasi juga disebut sebagai faktor penting yang tidak terpisahkan dari proses tumbuh kembang. Stimulasi dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana seperti berbicara dengan anak, membacakan buku, dan bermain bersama. Kombinasi kecukupan nutrisi dan stimulasi dinilai menjadi fondasi utama perkembangan anak secara optimal.
Data survei yang dipaparkan dalam forum tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan orang tua dan praktik pemenuhan gizi harian di rumah. Sekitar 60 persen orang tua menjadikan tinggi badan dan kemampuan kognitif sebagai indikator utama tumbuh kembang anak. Namun, 69,76 persen responden mengaku belum memahami perbedaan zat gizi makro dan mikro, sementara 62,87 persen menyatakan mikronutrien seperti vitamin dan mineral menjadi komponen yang paling sulit dipenuhi setiap hari. Selain itu, 69 persen orang tua menyebut anak yang pilih-pilih makanan sebagai tantangan terbesar dalam pemenuhan gizi.
Direktur Medical & Scientific Affairs Danone Indonesia, Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengatakan tantangan pemenuhan gizi anak tidak hanya terkait kuantitas, tetapi juga kualitas dan kelengkapan asupan.
Ia menyebut, pada kondisi tertentu, asupan padat gizi seperti susu fortifikasi dapat menjadi salah satu opsi untuk membantu melengkapi kebutuhan zat besi, zinc, vitamin, serta asam lemak esensial sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang. Menurut dia, riset yang dilakukan bersama Indonesia Nutrition Association (INA) menunjukkan anak yang mengonsumsi susu terfortifikasi zat besi memiliki kecukupan zat besi lebih baik dibandingkan yang tidak mengonsumsinya.
Meski demikian, para pakar mengingatkan bahwa pemenuhan gizi anak tetap perlu mengedepankan prinsip makanan beragam, bergizi seimbang, dan sesuai kebutuhan usia. Edukasi yang mudah dipahami dinilai penting agar orang tua mampu mengambil keputusan yang tepat dalam memilih asupan bagi anak.
Figur publik Dhea Ananda yang turut hadir dalam diskusi tersebut mengakui tantangan memahami kebutuhan gizi anak secara menyeluruh. Ia menyebut banyak orang tua merasa anak sudah makan cukup, padahal belum tentu seluruh kebutuhan nutrisinya terpenuhi.
Forum edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran keluarga Indonesia bahwa pertumbuhan optimal tidak hanya diukur dari tinggi dan berat badan, tetapi juga dari kualitas asupan dan stimulasi yang diberikan sejak dini.

3 hours ago
3














































