Ekonomi Batu Bara Kian Rapuh, Transisi Energi Mendesak

7 hours ago 8

Riset Indef menyatakan ekonomi batu bara kian rapuh. Transisi energi mendesak dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mengurangi risiko jangka panjang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketergantungan Indonesia pada batu bara dinilai semakin rapuh di tengah tekanan global dan perubahan arah sistem energi dunia. Transisi energi kini menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mengurangi risiko jangka panjang.

Lembaga riset Indef menilai batu bara masih diposisikan sebagai penyangga saat harga minyak dan gas bergejolak akibat konflik geopolitik. Namun peran tersebut semakin terbatas karena hanya berlaku pada batu bara berkualitas tinggi, sementara produksi Indonesia didominasi kalori rendah yang lebih rentan terhadap tekanan harga.

Indef mencatat pada Maret 2026 harga batu bara acuan Newcastle sempat naik ke sekitar 129 dolar AS per ton. Meski demikian, tren jangka menengah menunjukkan penurunan, dari sekitar 201 dolar AS per ton pada 2023 menjadi sekitar 109 dolar AS per ton pada 2025.

Penurunan ini berdampak langsung pada penerimaan negara. PNBP sektor minerba turun dari sekitar Rp173 triliun menjadi Rp138 triliun, mencerminkan ketergantungan fiskal yang tinggi terhadap komoditas batu bara.

“Karakter ekonomi batu bara adalah high revenue volatility dan low fiscal resilience,” tulis INDEF dalam laporannya bertajuk “Melepas Kacamata Kuda: Ilusi Ekonomi Batu Bara di Tengah Tekanan Global” dikutip pada Jumat (10/4/2026).

Indef menegaskan, ketika harga batu bara turun, penerimaan negara ikut tertekan tanpa banyak ruang perlindungan fiskal.

Tekanan juga datang dari sisi permintaan global. Dalam lima bulan pertama 2025, impor batu bara termal China turun hampir 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pembeli global kini semakin selektif dan cenderung memilih batu bara dengan nilai kalor lebih tinggi.

Dalam konteks ini, posisi Indonesia menjadi lebih rentan karena sekitar 65 persen produksi batu bara ditujukan untuk ekspor. Ketika permintaan melemah dan harga turun, dampaknya langsung terasa pada kinerja ekspor dan penerimaan negara.

Read Entire Article
Politics | | | |