REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah menggelar Festival Imlek Nasional 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, sebagai momentum merawat budaya sekaligus memperkuat persatuan. Ajang perdana ini ditargetkan dihadiri hingga 10 ribu pengunjung selama 10 hari penyelenggaraan.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Ketua Umum Panitia Festival Imlek Nasional Irene Umar mengatakan, festival bertema Harmoni Imlek Nusantara dirancang untuk menegaskan Imlek sebagai bagian dari budaya nasional yang inklusif. Pemerintah ingin menjadikan perayaan ini sebagai ruang temu lintas budaya dan lintas agama.
Logo festival menampilkan visual kuda lumping dengan dominasi warna merah dan putih. Simbol tersebut merepresentasikan perpaduan budaya Tionghoa dan budaya lokal Indonesia, sekaligus merujuk pada Tahun Kuda Api dalam penanggalan Tionghoa 2026.
Salah satu program utama adalah Museum Terbuka yang mengangkat sejarah akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia. Festival juga menghadirkan Parade Imlek, Festival Pasar UMKM, serta berbagai pertunjukan seni dan hiburan.
“Ada Museum Terbuka dimana masyarakat bisa belajar mengenai akulturasi antara Tionghoa dan Indonesia seperti apa. Kan banyak yang menanyakan, Cindo itu sebenarnya Indonesia atau enggak sih? namanya saja Cindo, (akronim dari) Cinta Indonesia,” tutur Irene saat Peresmian Festival Imlek Nusantara di Lapangan Banteng, Ahad (22/2/2026).
Dari area Museum Terbuka, pengunjung dapat menikmati Festival UMKM dan F&B di dekat panggung utama serta Festival Non F&B di panggung indoor. Festival ini juga memutar produksi film lokal seperti Jumbo, Na Willa, dan Pelangi di Mars sebagai bagian dari penguatan ekosistem ekonomi kreatif.
“Ada juga program prioritas, yaitu cek kesehatan gratis. Bisa langsung pakai KTP untuk cek kesehatan gratis, dan ini bukan ala-ala. Dimana sampai ada USG payudara, lalu pengecekan serviks juga ada. Kemudian yang pengen donor darah, ada PMI juga. Minggu ini kita akan hadirkan akupuntur dan pijit,” tuturnya.
Festival Imlek Nusantara tahun ini juga beririsan dengan bulan Ramadan. Pemerintah berharap momentum tersebut memperkuat toleransi, terutama karena lokasi acara berdekatan dengan Masjid Istiqlal sehingga masyarakat yang selesai menunaikan tarawih dapat turut meramaikan festival.
Festival berlangsung pada 22 Februari hingga 3 Maret 2026, pukul 15.00 sampai 22.00 WIB. Irene menargetkan 5.000 sampai 10.000 pengunjung, dengan optimisme jumlah tersebut dapat terlampaui karena konsep acara digelar terbuka untuk menjamin inklusivitas.
“Target pengunjung kira-kira 5.000—10.000 orang. Tapi saya yakin akan di atas itu karena dari yang tarawih ke sini cukup banyak. Makanya kita bikin cukup besar acaranya di lapangan terbuka. Kenapa enggak tempat tertutup? Ini supaya inklusivitas kita rasakan,” tuturnya.

3 hours ago
6















































