Kisah Suami Khilaf Berhubungan Intim dengan Istri di Siang Ramadhan

1 hour ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berhubungan badan, yakni masuknya kemaluan suami ke dalam kemaluan istri, adalah salah satu hal yang membatalkan puasa. Bahkan, perbuatan itu bila dilakukan pada waktu wajib puasa Ramadhan, menjadi sebuah dosa.

Tebusan (kaffarah) untuk pelakunya tidaklah ringan. Di antaranya adalah, bahwa mereka wajib berpuasa dua bulan berturut-turut di luar Ramadhan.

Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang laki-laki miskin yang khilaf.

Pada bakda zuhur di bulan suci Ramadhan, pria itu lari dengan tergesa-gesa ke arah Rasulullah SAW. Saat itu, Nabi SAW sedang bersama sejumlah sahabat lainnya dekat Masjid Nabawi.

"Ya Rasulullah! Ya Rasulullah! Celakalah aku! Sungguh celakalah aku!" kata lelaki itu.

Nabi SAW terkejut.

"Apa yang membuatmu celaka?" tanya beliau kepada laki-laki kurus yang beraut wajah ketakutan itu.

"Ya Rasulullah, aku telah bersetubuh dengan istriku pada siang hari Ramadhan, padahal aku sedang berpuasa!" katanya sembari tertunduk lesu. Tampak ia sangat menyesali perbuatannya itu.

Orang yang melanggar ketentuan puasa Ramadhan tentu mesti dijatuhkan sanksi. Setelah si lelaki duduk dan berhasil menenangkan diri, Rasulullah SAW kemudian bertanya kepadanya, "Apakah engkau mampu memerdekakan seorang budak?"

‘’Tidak, ya Rasulullah.’’

‘’Apakah engkau mampu memberi makan 60 orang miskin?’’ tanya beliau lagi.

‘’Tidak.’’

"Kalau begitu, apakah engkau sanggup berpuasa dua bulan berturut-turut di luar bulan ini (Ramadhan)?" selidik Nabi SAW.

Lelaki ini menjawab sambil menggelengkan kepala, "Tidak, wahai Rasulullah."

Tiga jenis kaffarah telah disampaikan. Namun, tidak satu pun yang disanggupi oleh si lelaki pelanggar puasa.

Rasulullah SAW pun diam. Sementara, laki-laki tadi berjalan ke sana kemari layaknya orang kebingungan.

Beberapa saat kemudian, seorang sahabat memberitahukan kabar. Ternyata, ada seseorang dermawan yang datang ke Masjid Nabawi untuk memberikan hadiah.

Sang sahabat menunjukkan hadiah itu, yakni sekeranjang penuh kurma, kepada beliau.

"Mana lelaki yang tadi?" tanya Rasulullah SAW.

Read Entire Article
Politics | | | |