Meneropong Dampak Keharusan 15% Free Float, Bagaimana Nasib Emiten Bank Syariah?

3 hours ago 6

Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 29/1/2026). IHSG pada sesi pertama kembali mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 09.30 WIB namun mampu memangkas koreksi pada akhir sesi satu. IHSG tengah hari terperosok 492 poin atau ambles 5,91% ke level 7.828,47. Tekanan IHSG hari ini masih disebabkan Tekanan IHSG hari ini masih dibayangi oleh sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Sebanyak 720 saham turun, 65 naik, dan 22 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 32,75 triliun, melibatkan 42,91 miliar saham dalam 2,55 juta kali transaksi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menggodok penyesuaian aturan kewajiban untuk meningkatkan porsi saham publik atau free float minimal menjadi 15 persen. Untuk memenuhi regulasi tersebut, diperkirakan pasar perlu menyerap sebanyak Rp 187 triliun dari sebanyak 267 perusahaan tercatat. BEI optimistis hal itu bisa terealisasi, seiring dengan kuatnya permintaan (demand).

“Potensi penambahan supply tentu terus diimbangi dengan potensi penambahan demand. Bagaimana kita mengupayakan ada potensi penambahan demand? tentu pertama adalah yang terkait dengan proposal kita kepada MSCI dan FTSE,” ujar Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT BEI Jeffrey Hendrik di Gedung BEI, dikutip Ahad (22/2/2026).

Jeffrey mengatakan, dengan implementasi proposal BEI yang disampaikan kepada MSCI dan FTSE soal peningkatan batas minimum free float, diharapkan tidak hanya dana asing yang bertahan di pasar modal Indonesia. Tetapi akan ada dana asing baru yang masuk atau inflow baru masuk. Sehingga ada potensi penambahan demand dari situ.

Upaya lainnya yakni Pemerintah telah memberikan relaksasi atau keleluasaan lebih kepada dana pensiun dan asuransi untuk bisa masuk lebih banyak ke pasar saham. Pemerintah diketahui menaikkan batas investasi dana pensiun dan asuransi di pasar modal dari 8 persen menjadi 20 persen sebagai upaya memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia.

“Itu juga akan menjadi potensi penambahan demand,” kata dia.

Selanjutnya, Jeffrey memandang investor ritel di pasar modal Indonesia mengalami tren pertumbuhan yang positif. Hal itu menunjukkan kemampuan pasar untuk menyerap triliun rupiah untuk memenuhi free float 15 persen pun diyakini bisa diwujudkan.

“Pertumbuhan ritel kita sampai dengan Jumat (20/2/2026) sejak awal tahun 2026 sudah ada 1,9 juta investor ritel baru. Itu juga akan menjadi potensi penambahan demand kita. Tentu dengan pertumbuhan demand yang meningkat, dengan ada supply yang lebih meningkat, kita harapkan pasar akan semakin dalam. Tujuan kita adalah pendalaman pasar,” jelasnya. 

Read Entire Article
Politics | | | |