Guru Besar Perikanan IPB Bicara Penyebab Ilmiah Kematian Ikan Dewa Keramat

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, KUNINGAN – Kematian massal ikan dewa (Tor soro) yang terjadi secara masif di Balong Girang Cigugur, Kabupaten Kuningan, menjadi perhatian serius. Sejak pertama terjadi pada 29 Januari hingga 12 Februari 2026, tercatat sudah 961 ekor ikan tersebut yang mati.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Sri Nuryati, mengungkapkan, dalam menghadapi kondisi tersebut, maka penanganan harus diawali dengan pemeriksaan penyebab pastinya terlebih dahulu. Langkah itu juga harus disertai dengan perbaikan kualitas air dan peningkatan daya tahan tubuh ikan.

“Ikan merupakan organisme akuatik yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan perairan. Jadi, apapun yang terjadi di air, itu akan sangat berpengaruh kepada kondisi fisiologis ikan,” ujar Sri, dikutip Republika dari laman resmi www.ipb.ac.id, Sabtu (14/2/2026).

Sri menjelaskan, insang sebagai organ yang langsung berinteraksi dengan air menjadi bagian paling rentan terdampak perubahan kualitas lingkungan. Ia mengatakan, tingginya bahan organik, turunnya oksigen, serta perubahan suhu dapat memicu gangguan pada insang.

“Kondisi itu membuka peluang bagi mikroorganisme akuatik seperti bakteri, jamur, protozoa, maupun parasit multiseluler untuk menempel dan menginfeksi. Biasanya bakteri menjadi penginfeksi sekunder, sementara penginfeksi primer kadang berasal dari parasit, misalnya Lernaea sp,” jelasnya.

Indikasi awal

Sri menyebutkan, berdasarkan pemberitaan dari berbagai media, disebutkan adanya indikasi parasit cacing jangkar (Lernaea sp) pada ikan dewa yang mati. Namun demikian, ia menegaskan bahwa penyebab pastinya harus melalui pemeriksaan laboratorium. Pasalnya, pemberian garam atau obat tanpa mengetahui penyebab utama sering kali tidak efektif.

Ia menambahkan, kolam yang tidak dikuras dalam waktu lama juga berpotensi menurunkan kualitas air. Begitu pula sisa pakan yang tidak termakan, akan terurai menjadi amonia yang bersifat toksik.

“Amonia itu tidak baik, ikan tidak bisa menoleransi amonia pada konsentrasi tertentu. Itu bisa mengganggu dan akhirnya mati,” ungkapnya.

Read Entire Article
Politics | | | |