Hasil Analisis Cenago ITB: Banjir Sumatera Dipicu Cuaca Ekstrem

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Center for Analysis and Applying Geospatial Information Institut Teknologi Bandung (Cenago ITB) menyelesaikan kajian forensik pemicu banjir di tiga daerah aliran sungai (DAS) Badiri, Garoga, dan Batang Toru, Provinsi Sumatera Utara. Kajian dilakukan berbasis analisis presipitasi ekstrem, karakteristik hidrologi, perubahan tutupan lahan, serta simulasi hidrologi-hidrolika.

Hasilnya menunjukkan, peristiwa tersebut dipicu oleh curah hujan dengan intensitas sangat ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar. Sehingga kapasitas sistem pengendalian banjir yang ada tidak dirancang untuk menahan skala peristiwa tersebut.

Koordinator Tim Riset Cenago ITB, Heri Andreas, mengatakanl analisis perubahan tutupan lahan menunjukkan porsi alih fungsi lahan tiga korporasi terhadap luas DAS relatif kecil. PT AR sekitar 1,6 persen, PT TBS 0,4 persen, dan PT NSHE 0,02 persen.

"Jika secara kuantitatif kontribusi perubahan tutupan lahan yang dituduhkan relatif kecil, maka penetapan pertanggungjawaban mutlak (strict liability) terhadap pihak tertentu perlu ditinjau kembali demi objektivitas," kata Heri kepada awak media di Jakarta, Sabtu (21/2/2026).

Cenago menjelaskan, temuannya menunjukkan pentingnya pendalaman berbasis data dan analisis komprehensif dalam menarik kesimpulan mengenai faktor penyebab serta pertanggungjawaban suatu bencana. Hasil riset menunjukkan, kontribusi perubahan tutupan lahan oleh sejumlah korporasi seperti PT NSHE, PT AGR, dan PT TBS yang dianalisis relatif kecil dibandingkan dengan skala faktor cuaca ekstrem yang terjadi.

Tidak hanya mengandalkan identifikasi dan digitasi citra satelit untuk mengklasifikasikan tutupan lahan, Cenago juga menggabungkan data presipitasi BMKG dan NOAA Amerika Serikat. Selain itu, pendefinisian DAS dan sub-DAS, digital elevation model (DEM), serta data standar parameter hidrologi hidrolika.

Menurut Heri, hasil analisis terhadap citra satelit resolusi tinggi menunjukkan banjir dipicu oleh fenomena Siklon Tropis Senyar dengan anomali presipitasi yang sangat jarang terjadi. Curah hujan pada akhir November 2025 mencapai level ekstrem (150-300 milimeter per hari) hingga sangat ekstrem (lebih dari 300 milimeter per hari).

"Model probabilitas kami menunjukkan ini masuk kategori R700 hingga R1000, yang artinya siklus kejadian sekali dalam 700 hingga 1.000 tahun. Angka ini melampaui standar mitigasi banjir yang umumnya dirancang hingga R50," ujar Heri.

Dengan intensitas hujan yang melampaui standar mitigasi nasional itu, kata Heri, bencana tersebut berada pada tingkat yang secara perencanaan melampaui kapasitas pengendalian banjir yang berlaku. Pembahasan itu mengemuka dalam focus group discussion (FGD) bertajuk "Memahami Root Cause Banjir Sumatera 2025 untuk Rekonsiliasi Konklusi Berbasis Keilmuan" yang digelar pada 18 Februari 2026 di Jakarta.

Read Entire Article
Politics | | | |