REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — NATO mengakui bahwa lonjakan anggaran pertahanan yang belum pernah terjadi sebelumnya tidak akan cukup jika tidak segera diterjemahkan menjadi kekuatan militer yang siap tempur.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap Rusia, aliansi militer Barat itu kini menghadapi tantangan baru: mengubah miliaran dolar belanja pertahanan menjadi pasukan, senjata, dan kemampuan tempur yang nyata.
Peringatan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte seusai pertemuan para menteri pertahanan NATO menjelang KTT aliansi yang akan digelar bulan depan.
Menurut Rutte, negara-negara anggota telah menunjukkan komitmen kuat untuk meningkatkan belanja pertahanan hingga mencapai 5 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2035. Bahkan, sejumlah negara diperkirakan mampu mencapai target tersebut jauh lebih cepat dari jadwal.
Ia mengungkapkan bahwa anggota NATO di Eropa dan Kanada menambah belanja pertahanan lebih dari 90 miliar dolar AS dalam nilai riil sepanjang tahun lalu. Jika dihitung berdasarkan nilai nominal, kenaikannya mencapai sekitar 139 miliar dolar AS (Rp2.200 T).
Jumlah tersebut menjadi salah satu lonjakan terbesar dalam sejarah NATO. Namun, Rutte menegaskan bahwa uang bukanlah tujuan akhir.
"Anda tidak dapat menghentikan rudal atau tank hanya dengan satu dolar atau satu euro," katanya beberapa waktu lalu.
Menurut dia, tantangan terbesar NATO saat ini bukan lagi sekadar mencari tambahan dana, melainkan memastikan dana tersebut segera berubah menjadi kemampuan tempur yang siap digunakan.
"Itu berarti lebih banyak pasukan, lebih banyak sumber daya, dan basis industri pertahanan yang lebih kuat," ujarnya.
Pernyataan Rutte muncul ketika negara-negara NATO terus mempercepat modernisasi militer mereka menyusul perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung lebih dari empat tahun. Konflik tersebut mendorong banyak negara Eropa untuk meningkatkan belanja pertahanan setelah puluhan tahun menikmati apa yang disebut sebagai "dividen perdamaian" pasca-Perang Dingin.
Kini, fokus NATO bergeser dari sekadar pengeluaran menuju kesiapan operasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, para menteri pertahanan NATO menyepakati peningkatan kerja sama industri pertahanan di kedua sisi Atlantik.
Langkah itu mencakup perluasan kapasitas produksi senjata, penguatan rantai pasok militer, serta percepatan inovasi teknologi pertahanan.
Rutte menegaskan NATO akan tetap menjadi aliansi transatlantik yang menghubungkan Amerika Utara dan Eropa. Namun, menurut dia, NATO juga membutuhkan Eropa yang lebih kuat secara militer agar mampu menghadapi tantangan keamanan yang terus berkembang.
Ia bahkan menyebut proses yang sedang berlangsung sebagai bagian dari transformasi besar yang oleh sejumlah pejabat NATO mulai disebut sebagai "NATO 3.0".
"Ini mungkin transformasi terbesar dalam sejarah NATO," kata Rutte.

5 hours ago
12















































