Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 29/1/2026). IHSG pada sesi pertama kembali mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 09.30 WIB namun mampu memangkas koreksi pada akhir sesi satu. IHSG tengah hari terperosok 492 poin atau ambles 5,91% ke level 7.828,47. Tekanan IHSG hari ini masih disebabkan Tekanan IHSG hari ini masih dibayangi oleh sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Sebanyak 720 saham turun, 65 naik, dan 22 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 32,75 triliun, melibatkan 42,91 miliar saham dalam 2,55 juta kali transaksi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (21/5/2026) sore ditutup melemah, tertekan saham-saham sektor barang baku dan energi. IHSG ditutup turun 223,56 poin atau 3,54 persen ke posisi 6.094,94. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 melemah 14,28 poin atau 2,26 persen ke posisi 616,40.
Fixed Income and Macro Strategist PT Mega Capital Indonesia Lionel Priyadi mengatakan sentimen utama pelemahan IHSG berasal dari rencana sentralisasi ekspor komoditas melalui BUMN ekspor yang dinilai berpotensi memengaruhi perusahaan dan pelaku pasar.
“Sentimen utama pelemahan IHSG datang dari rencana sentralisasi ekspor komoditas oleh BUMN ekspor yang dianggap akan merugikan perusahaan maupun pemegang saham. Sentimen negatif datang dari investor domestik maupun asing,” ujar Lionel saat dihubungi di Jakarta, Kamis.
Pelaku pasar domestik dan asing merespons rencana penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam (SDA), termasuk pengaturan mengenai BUMN sebagai eksportir tunggal sejumlah komoditas strategis.
Pasar juga mencermati pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai BUMN khusus ekspor sektor sumber daya alam.
PT DSI berada langsung di bawah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dengan tugas memperkuat tata kelola ekspor sejumlah komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), batu bara, dan paduan besi (ferro alloy).
Salah satu alasan pembentukan BUMN khusus ekspor tersebut ialah dugaan praktik kurang bayar (underinvoicing) ekspor komoditas yang disebut merugikan negara hingga Rp 15.400 triliun selama 34 tahun.
sumber : ANTARA

9 hours ago
11

















































