REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indonesia dan Afrika Selatan membuka peluang kerja sama strategis dalam pengembangan wisata halal, seiring penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di bidang pariwisata antara kedua negara. Kesepakatan ini dinilai menjadi momentum penting bagi perluasan destinasi ramah Muslim di kawasan global selatan.
MoU ditandatangani Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana bersama Menteri Pariwisata Afrika Selatan Patricia de Lille di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (5/2/2026). Kerja sama ini mencakup pengembangan pariwisata berkelanjutan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, promosi bersama, investasi, hingga penguatan standar keamanan dan layanan pariwisata .
Salah satu fokus yang mendapat perhatian adalah komitmen Afrika Selatan dalam mengembangkan wisata halal. Pemerintah Afrika Selatan, menurut Patricia, akan bekerja sama dengan Muslim Judicial Council serta otoritas terkait guna memastikan wisatawan Muslim mendapatkan layanan yang aman, nyaman, dan sesuai prinsip syariah selama berkunjung.
Menteri Pariwisata Widiyanti menilai kerja sama ini sejalan dengan upaya Indonesia memperluas diplomasi pariwisata berbasis nilai inklusivitas dan keberlanjutan. Pariwisata halal, bukan hanya soal layanan, tetapi juga mencerminkan penghormatan terhadap nilai budaya dan keyakinan wisatawan.
“Kami meyakini kerja sama ini akan membuka peluang besar bagi pengembangan pariwisata yang lebih ramah, berkelanjutan, dan memberi manfaat bagi masyarakat kedua negara,” kata Widiyanti, dalam keterangan pers yang diterima Republika, Kamis (5/2/2026).
Selain wisata halal, kedua negara juga membahas langkah konkret untuk meningkatkan arus kunjungan wisata, antara lain melalui fasilitasi visa, penguatan konektivitas udara, serta promosi destinasi unggulan dan hidden gems. Afrika Selatan bahkan telah mereformasi sistem visa sehingga warga Indonesia dapat mengajukan visa secara daring dengan proses kurang dari 24 jam .
Data Kementerian Pariwisata mencatat sekitar 30 ribu wisatawan Afrika Selatan berkunjung ke Indonesia sepanjang 2025. Sementara wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Afrika Selatan tercatat sekitar 3 ribu orang. Melalui kerja sama ini, kedua negara berharap terjadi peningkatan signifikan, termasuk dari segmen wisatawan Muslim .
Kemitraan Indonesia dan Afrika Selatan juga dipandang sebagai kelanjutan semangat Konferensi Asia-Afrika 1955, yang menekankan solidaritas dan kolaborasi antarnegara global selatan. Di sektor pariwisata, semangat tersebut diwujudkan melalui pengembangan sektor yang inklusif, tangguh, dan berorientasi jangka panjang.
"Sebagai bagian dari kolaborasi ini, kami ingin meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di kedua negara. Masyarakat Indonesia akan selalu disambut dengan hangat di Afrika Selatan,” kata Patricia.

1 hour ago
2













































