REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog forensik Reza Indragiri menilai peristiwa bunuh diri yang dilakukan seorang murid sekolah dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak tepat bila disederhanakan hanya sebagai persoalan ketidakmampuan membeli alat tulis. Reza mengingatkan, fenomena anak-anak yang kesulitan membeli alat tulis sejatinya bukan hal baru.
"Saya sudah menulis tentang bunuh diri anak-anak sejak 23 tahun lalu di Republika. Coba baca bunga rampai 'Ajari Ayah ya, Nak' terbitan Serambi tahun 2014 silam,” kata Reza, Kamis (5/2/2026).
Reza mengatakan, jika masyarakat mau membuka mata, persoalan anak yang kesulitan membeli alat tulis adalah realitas yang kerap ditemui. Bahkan, menurut dia, masih banyak kondisi lain yang jauh lebih berat dialami anak-anak Indonesia.
“Kalau mau buka mata, anak-anak yang kesulitan membeli alat tulis adalah fenomena 'biasa'. Lebih parah: banyak yang bahkan sampai tidak bisa bersekolah. Lebih parah lagi: banyak yang tidak bisa makan. Tapi mereka tidak bunuh diri,” katanya.
Karena itu, ia menilai persoalan utama dari tragedi tersebut bukan semata alat tulis. Reza menilai, kegaduhan publik yang muncul justru menunjukkan ada persoalan lain yang lebih dalam.
“Jadi, kalau mau buka hati, sesungguhnya bukan masalah anak tidak bisa beli alat tulis yang membuat geger,” katanya.
Ia juga menilai peristiwa tersebut seharusnya menjadi perhatian serius Presiden. Reza menyebut, tragedi itu kontras dengan narasi optimistis pemerintah mengenai kebahagiaan masyarakat.
“Peristiwa menyedihkan sekaligus menakutkan ini sebaiknya diperhatikan oleh Presiden dengan secermat mungkin. Pasalnya, ini kontras dengan gembar-gembor salah kaprah Presiden bahwa Indonesia merupakan negara yang penduduknya paling bahagia sedunia,” katanya.
Reza menjelaskan, kesedihan seharusnya dipahami sebagai spektrum, bukan sesuatu yang hitam-putih. Pada tingkatan tertentu, kesedihan dapat berkembang menjadi keputusasaan yang mendorong seseorang mengakhiri hidup.
Menurut Reza, banyak warga yang berada pada level kesedihan di bawah titik ekstrem tersebut. Namun, ia menilai masyarakat cenderung tidak peka terhadap penderitaan yang belum mencapai tragedi.
“Warga yang kesedihannya berada pada level di bawah itu pasti banyak sekali. Tapi apakah kita memerhatikan populasi yang sesungguhnya amat sangat banyak itu? Pasti tidak. Kita sudah mati rasa terhadap penderitaan yang baru 'sebatas' itu. Kita hanya terperanjat ketika merespon kesengsaraan terekstrim, seperti yang terjadi pada anak NTT itu,” katanya.

2 hours ago
3













































