Investasi: Penting dan Perlu, Bagaimana Pandangan Islam?

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Barbara Gunawan (Dosen Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Ramadhan adalah bulan refleksi, bukan hanya dalam ibadah spiritual, tetapi juga dalam cara memandang dan mengelola harta. Dalam Islam, aset dipahami sebagai amanah, bukan kepemilikan mutlak. QS Al-Hadid: 7 menegaskan bahwa manusia hanyalah pengelola yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Sementara QS An-Nisa: 5 menyebut harta sebagai qiyaman—penopang kehidupan—yang menegaskan fungsi strategisnya bagi stabilitas ekonomi individu dan masyarakat.

Islam tidak mendorong penimbunan harta tanpa manfaat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, "Sebaik-baik harta adalah harta yang berada di tangan orang saleh" (HR Al-Bukhari dan Muslim). Kekayaan tidak tercela selama dikelola secara amanah dan memberi maslahat. Bahkan praktik kemitraan Rasulullah bersama Khadijah melalui skema mudharabah menjadi fondasi investasi syariah modern yang berbasis bagi hasil dan keadilan.

Dalam perspektif ekonomi, investasi adalah pengorbanan sumber daya saat ini untuk memperoleh manfaat di masa depan. Ia mendorong pertumbuhan, membuka lapangan kerja, serta melindungi nilai kekayaan dari inflasi. Bagi individu, investasi merupakan bagian dari perencanaan keuangan dan manajemen risiko. Namun Islam memberi batas etis: tidak boleh mengandung riba, gharar (ketidakjelasan berlebihan), dan maysir (spekulasi).

Prinsip syariah menekankan transparansi, keadilan, dan berbagi risiko.

Dari sudut pandang akuntansi, investasi diakui sebagai aset yang memberi manfaat ekonomi di masa depan dan harus dicatat secara transparan. Laporan keuangan menjadi bentuk akuntabilitas, sejalan dengan konsep hisab bahwa setiap harta akan diperhitungkan.

Instrumen investasi beragam, seperti saham, obligasi, deposito, emas, reksa dana, dan properti. Dalam dinamika geopolitik global 2024–2026 yang penuh ketidakpastian, emas kembali menguat sebagai safe haven asset. Lonjakan harganya mencerminkan kecenderungan investor mencari instrumen lindung nilai di tengah konflik, inflasi, dan gejolak pasar. Dalam manajemen portofolio, emas berfungsi sebagai diversifikasi untuk menekan risiko sistemik.

Bagi investor Muslim, fenomena ini bukan sekadar peluang keuntungan, tetapi pengingat akan pentingnya kehati-hatian dan keberkahan. Investasi adalah bentuk ikhtiar menjaga nilai kekayaan, namun harus tetap selaras dengan prinsip syariah dan tanggung jawab sosial. Ramadhan mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat: investasi terbaik bukan hanya yang menghasilkan return tinggi, tetapi yang membawa keadilan dan kemaslahatan.

Karena itu, prinsip diversifikasi tetap relevan: jangan menaruh seluruh risiko pada satu instrumen. Meski emas kini dipandang menjanjikan, pengelolaan portofolio yang bijak dan proporsional tetap menjadi kunci investasi yang aman, etis, dan berkelanjutan.

Read Entire Article
Politics | | | |