Ironi Sampah di Jantung Jakarta

2 hours ago 6

loading...

M Fuadi Luthfi, Anggota DPRD DKI Jakarta. Foto/Ist

M Fuadi Luthfi
Anggota DPRD DKI Jakarta

JAKARTA sedang bersolek menyambut usia ke-500 tahun. Separuh millenium. Kota ini telah berganti wajah berkali-kali, dari bandar pelabuhan kolonial, ibu kota negara merdeka, hingga megapolitan yang setiap harinya menggerakkan hampir seperlima perekonomian nasional.

Jakarta sudah lama bukan kota biasa. Ia adalah cermin Indonesia di hadapan dunia, Jakarta kota global, begitu personanya.
Tapi ada satu hal yang tidak banyak berubah dalam perjalanan panjang itu. Cara Jakarta memperlakukan sampahnya sendiri.

Di tengah ambisi bersanding dengan Singapura, Seoul, dan Tokyo sebagai kota global dalam berbagai indeks daya saing, Jakarta masih berjibaku dengan persoalan yang paling mendasar sekalipun.

Setiap hari kota ini menghasilkan sekitar 7.500 ton sampah, dan mayoritas berakhir di satu titik yang sama: Bantargebang, Bekasi, fasilitas yang beroperasi sejak 1989, menerima lebih dari 55 juta ton sampah selama 37 tahun tanpa henti, dan kini menjulang setinggi hampir 50 meter. Kota yang hendak merayakan lima abad eksistensinya belum memiliki jawaban yang memadai atas pertanyaan paling sederhana: sampah ini mau dibuang ke mana?

Risiko yang Kita Buat Sendiri

Sosiolog Jerman Ulrich Beck, dalam karyanya Risk Society (1986), mengingatkan bahwa ancaman terbesar masyarakat modern bukan datang dari alam, melainkan dari konsekuensi yang diproduksi oleh modernitas, oleh industrialisasi, konsumsi, dan cara kita mengorganisasi kehidupan kota. Bantargebang adalah ilustrasi paling kentara dari tesis itu di Jakarta.

Laporan UCLA School of Law pada 2025 mencatat Bantargebang sebagai salah satu penyumbang emisi metana terbesar di dunia dari kategori tempat pembuangan akhir, dengan laju 6,3 ton per jam. Gas metana memiliki potensi pemanasan global 28 kali lebih kuat dari karbon dioksida dalam rentang seratus tahun.

Sebuah ironi: kota yang ingin dikenal hijau dan berkelanjutan sedang mengoperasikan salah satu sumber emisi gas rumah kaca paling signifikan di Asia Tenggara. Lalu pada 8 Maret 2026, sebagian gunung itu runtuh. Tujuh orang meninggal dunia.

Read Entire Article
Politics | | | |