Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji (tengah).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- JPPI mengkritik pedas jebloknya nilai matematika siswa peserta Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD/MI Sederajat dan SMP/MTS sederajat Tahun 2026. JPPI memandang hal terjadi karena kegagalan membenahi substansi pendidikan.
"Nilai matematika yang terus-menerus hancur membuktikan bahwa kita selama ini terjebak dalam ilusi transformasi kurikulum yang kosmetik, tapi gagal menyentuh substansi mendasar di ruang kelas," kata Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji kepada Republika, Jumat (29/5/2026).
Ubaid menyebut ada tiga masukan fundamental yang harus segera dijawab oleh Kemendikdasmen. Pertama, Ubaid mendorong menghentikan 'gonta-ganti kulit' tanpa memperbaiki akar masalah. Ubaid menyentil perubahan kebijakan tanpa menyentuh substansi masalah.
"Kita sibuk mengubah nama kurikulum dan jargon-jargon administratif, tapi abai pada fakta bahwa siswa kita belum menguasai foundational skills (kemampuan dasar) seperti numerasi dan logika matematika dasar," ujar Ubaid.
Kedua, Ubaid menekankan perbaikan krisis kompetensi dan kesejahteraan guru. Ubaid mengajak pemerintah memahami bahwa kurikulum sehebat apa pun tidak akan pernah bisa melampaui kualitas gurunya.
"Bereskan sertifikasi, distribusikan guru berkualitas secara merata, dan berikan pelatihan yang berbasis praktik di kelas, bukan cuma diklat-diklat yang formalitas," ujar Ubaid.
Ketiga, Ubaid mendesak Kemendikdasmen berani memastikan anggaran pendidikan benar-benar masuk ke ruang kelas. Ini termasuk perbaikan fasilitas belajar, menyediakan alat peraga numerasi yang layak, dan mengintervensi sekolah-sekolah supaya kualitasnya meningkat merata.
"Jangan seperti sekarang anggaran pendidikan habis dikuras untuk makan-makan MBG," ucap Ubaid.
Selain itu, Ubaid khawatir kalau Kemendikdasmen saat ini masih mengadopsi gaya kerja lama. Sebab gaya kerja semacam itu menurutnya hanya fokus pada urusan administratif dan proyek-proyek politis.
"Kalau terus begitu maka jangan heran di tahun-tahun mendatang kita akan terus meratapi hasil tes yang jeblok seperti ini. Kita butuh revolusi pada tata kelola guru dan pembenahan literasi-numerasi secara radikal, bukan sekadar kosmetik kebijakan," ucap Ubaid.

6 hours ago
13

















































